Pendidikan menurut Al Ghazali

Nama lengkapnya adalah  Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i, lahir di kota Thus Prsia pada tahun ; 1058M/450H  dan meninggal  tahun 1111M/505H;  pada usia 52–53 tahun). Dia adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Seorang Ulama, Filsuf sekaligus seorang Sufi yg menjadi tonggak kebangkitan ilmu ilmu Islam ketika mengalami keredupan. Beliau mulai menuntut ilmu sejak masa kecilnya yaitu Ilmu Fiqih kepada Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Ar-Rodhakoni di kota Baghdad, lalu Al-ghazali melanjutkan studinya ke negara Jurjan, beliau belajar kepada Al-Imam Abi Nashr Al-isma’ili, Kemudian Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Kota Naysabur untuk menimba ilmu kepada Al-Imam Al-Haromain Mufti Kota Mekkah dan Madinah. Dia  disekolahkan di Madrasah Nidzomiyah di Baghdad, Iraq. Setelah Al-Ghazali mengusai segala bidang ilmu, baik dalam Ilmu Fiqih, ilmu Jidal (debat ilmiah), Ilmu Ushul dan Filsafat. Dalam perkembangan intelektualnya, akhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi, dan kemudian Dia menuju ke negara Syam untuk ‘Uzlah (menjauh dari hiruk pikuk) serta Kholwah (menyendiri) di Menara Masjid. Sebelumnya Dia merupakan akhli argumen dlm berdebat, Dia selalu mensalami sudut pandang temsn debatnya sehingga mampu melakukan, mengemukakan argumen tepat valud dan dipercata fihak yg berdiskusi. Pada suatu saat  Nidhomul Mulk mengumpulkan para ahli ilmu dan semua para Ulama’  untuk berdiskusi, berdebat serta berusaha untuk memusuhi Al-Ghazali. Namun Setelah Al-Ghazali menjelaskan ilmunya yang didapatkan dari Guru-Gurunya, akhirnya semua Ulama’ mengerti keutamaan Al-Ghazali. Hingga akhirnya Al-Ghazali diperintahkan pergi ke Madrasah Nidhomiyah di Baghdad pada Tahun 484 Hijriyah dan diangkat sebagai pendidik/Guru dan mengajar di sana, hingga semua orang terheran dengan kepiawaian Al-Ghazali dalam mengajar dan berargumen, serta mempunyai keutamaan yang indah dan fasih lisannya hingga semua orang mencitainya.

Dalam praktek pendidikan, pengajaran yg dilakukan menekankan pentingnya melatih hafalan (terus memperkuat daya ingat) sebagai fondasi berargumen, disamping metode rasa serta amalan yg dapat meningkatkan kedekatan dg Tuhan setelah beliau menjadi sufi.  Terkait dg pentingnya menghafal (di luar kepala) ini berhubungan dg pengalaman beliau sewaktu masih jadi pelajar yg dpt dikisahkan (hendy irawan) sbb:  Setelah bertahun-tahun belajar,  Al-Ghazali pulang ke kampung halamannya. Dia  menyusun dan mengumpulkan catatan-catatannya, lalu ikut kafilah yang akan pergi ke kampungnya. Ditengah jalan, kafilah itu dihadang oleh segorombolan perampok. Mereka mengambil setiap barang yang dijumpai. Pada giliran barang-barang bawaan Al-Ghazali, ia berkata kepada perampok tersebut, “Kalian boleh ambil semua barang-barangku, tapi tolong jangan kalian ambil yang satu ini. Gerombolan perampok tersebut menduga bahwa pasti itu adalah barang-barang yang bernilai. Secepat kilat mereka merebut dan membukanya. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali setumpukan kertas-kertas yang hitam. “Hai anak muda (Al Ghazali), apa ini? Untuk apa kau menyimpannya? tanya para perampok itu. “Itulah barang-barang yang tidak akan berguna bagi kalian, tapi berguna bagiku,” jawab Al-Ghazali. “Apa gunanya?”, “Ini adalah hasil pelajaranku selama beberapa tahun,” jawab Al-ghazali. “Jika kalian merampasnya dariku, maka ilmuku akan habis, dan usahaku yang bertahun-tahun itu akan sia-sia. “mengapa engkau begitu ingin melindungi buku itu?” tanya sang pemimpin perampok. “karena buku ini adalah buku satu-satunya yang mencatat sebuah ilmu yang sangat penting…” jawab Al-Ghazali. “Hanya yang ada dalam lembaran-lembaran inikah ilmumu?” tanya salah seorang perampok “, Ya, “ jawab Al-Ghazali. Perampok itu melanjutkan, “Bagaimana menurutmu seandainya semua buku pelajaranmu ini ku ambil? maka sudah pasti kamu berpikir bahwa kamu akan menjadi orang bodoh. Karena kamu masih mengandalkan buku dan catatan. Pelajaran seharusnya di simpan di kepala bukan di dalam buku. Kalau memang begitu penting, mengapa tidak kau ajari orang lain tentang ilmu tersebut? bukankah kalau buku ini terbakar habis, maka hilanglah ilmu yang kau anggap penting itu? Ketahuilah wahai anak muda, Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan yang dapat dicuri, sebenarnya bukanlah ilmu. Pikirkanlah nasib dirimu baik-baik.”Kemudian para perampok itu pergi meninggalkan Al-Ghazali yang sedang memunguti kitab-kitab dan buku catatannya sambil merenungi cemoohan kepala perampok tersebut. Semua ucapan perampok tersebut yang nadanya mencemooh bagi Al-Ghazali justru merupakan nasehat penting dan hikmah serta berkah yang tak ternilai harganya. Sejak peristiwa itu Al-Ghazali semakin rajin menghafal. Satu persatu pelajaran yang asalnya merupakan tulisan kini telah pindah dan tertanam dalam otak dan hati sanubari Al-Ghazali. Al-Ghazali berkata, “Sebaik-baik nasehat yang membimbing kehidupan intelektualitasku adalah nasehat yang kudengar dari mulut seorang perampok.”
Penguasan ilmu pengetahuan yg mendalam dan mudah diretrieve (diambil kembali) karena hafal, menjadi fondasi dlm berbagai debat, diskusi dan mengembangkan wacana keilmyan dan keislaman dalam masyarakat yg sunfai aliean ajaran telah makin jauh sehingga banyak sungai2 kecil tg mempengaruhi kejernihan air sungainta dg berbabagai ajaran yg bersifat ilmiah seperti filsafat, golongan batiniah, golongan ahli ilmu kalam, bahkan golongan sufi/mistik. Dalam kondisi demikuan Al Ghazali mendalaminya, kemudian mengkritisinya berbagai kesesatan di dalam ajaran2 nya, dan untuk itu dia menulis buku kecil berjudul “Al Munqidzu min Al dhollal” (pembebas dari kesesatan), adapun buku terkenalnya yg Dia susun adalah “Ihya Ulumuddin” (Menghidupkan kembali Ilnu ilmu Agama), sebuah buku yg anat berpengaruh pada kehidupan intelektual dan amal keuslaman sampai sekarang. Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Muslim yang pemikirannya sangat luas (dlm terminologi sekarang Kmenguasai dan memahami berbagai disiplin ilmu, generalis dan ensiklopedis) dan masalah pendidikan mrrupakan aspek saja diri ilmu (Hudan) kehidupan yg untuk kebahagian (Dunya wal akhirah) manusia di dalamnya, Rasul Muhammad saw di utus mengajari, mendakwahi agar manusia mengikuti jalan Tuhan. Pada hakikatnya pendidikan menurut Al-Ghazali adalah dengan mengutamakan perwujudan secara utuh dan terpadu manusia sebagai mekhluk Tuhan yg dikembangkan mulai dari kandungan sampai mati (ini sejalan dg hadist Utlubul ilma minal mahdi ila allahdi).
Pendidikan terjadi sepanjang hayat, sejalan dg kewajiman manusia menuntut ilmu, dan pendudikan aapun haruslah menjada cara untuk makin raqorrub ila Allah (mendekatkan duri pada Allah swt). Oleh karenanya, Pendidikan merupakan proses pembimbingan  manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna. Dengan demikian  pendidikan adalah membentuk manusia shalih dan sholihah, yakni manusia yang mempunyai kemampuan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kewajiban-kewajibannya kepada manusia sebagai hamba-Nya. Dalam prises tersebut peran pendidik  (Orang tua, masyarakat, ulama) amat menentukan, Mereka  perlu memahami tingkat perkembangan  murid (Anak), serra harus berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliq-Nya. Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang mulia. Kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Untuk itu pendidik dalam perspektif Islam melaksanakan proses pendidikan hendaknya diarahkan pada aspek tazkiyah an-nafs. Dusamping itu Seorang pendidik dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadiannya: 1) Sabar, 2) penyayang, 3) Sopan dan santun, 4) tidak sombong,  5) tawadlu, 6) mampu berargumen secara tepat dan benar.
Kepribadian Guru tsb menunjukan suatu perhatian penting dlm pendidikan, pengajaran, karena mereka itu menjadi corong, atau transformator ilmu pengetahuan bagi para pencari, penuntut ilmu (murid). Untuk itu posisi, peran dan tugas pendidik sanga penting, serta substansi ilmu pengetahuan yg disampaikannya juga menjadi menentukan bagi kebaikan murid sekaligus kebaikan hidup manusia. Berikut pernyataan Al Ghazali: “Sebaik baik makhluk di atas bumi adalah manusia, dan sebaik baik bagian tubuh manusia adalah hati. Sedang guru berusaha untuk menyempurnakan, membersihkan dan mengarahkan untuk mendekatkan diri pada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu adalah salah satu bentuk ibadah dan termasuk memenuhi tugas kekhalifahan di bumi, bahkan yg paling utama”. (IHYA ULUMUDDIN)”. “Kesempurnaan manusia terletak pada pendekatan dirinya pd Allah Swt. Itu hanya bisa dilakukan lewat ilmu pengetahuan. Maka bila ilmunya makin banyak dan makin sempurna, berarti ia lebih dekat dg Allah dan lebih mendekati sifat Malaikan. (FATIHAT AL ULUM). demikian pulihan pernyataan Al Ghazali, yg sebenarnya bantak sekali tersebar dlm berbagai kitab/buku yg dutulisnya, yg menekankan pentingnya Guru dan Ilmu dalam kehidupan manusia, termasuk dlm mendidik dan mengajar.
Pendidikan, pengajaran merupakan suatu interaksi antara pendidik, pengajar, ilmu dan peserta didik, murid. Hubungan pendidik/guru dg ilmu tercermin dari penguasaan, pemahaman dan pengembangan akan ilmunya.  Hubungan murid dg ilmu tercermin dari penguasaan, pengingatan, dan penerapannya. Hubungan Pendidik/guru dg murid terlihat dari pembimbingan, pengarahan, pemberdayaan, penghormatan dan perubahan pd fihak peserta didik/murid, serta peningkatan pada fihak pendidik. Apapun kondisi dan situasinya pendudikan esensinya adalah human relation yg bersifat edukatif, keberhasilannya tebtu tak hanya ditentukab oleh kepribadian guru, namun juga oleh prilaku dan adab peserta didik, murid dalam mengikuti peroses pendidikan, pembelajaran. Dlm konteks inilah Al Ghazali memandang penting pada etika, akhlaq murid dlm mengikuti mengalami pendidikan (belajar). Al-Ghazali berpandangan bahwa terdapat hal-hal yang harus dipenuhi murid tugas dan kewajiban dalam proses pendidikan (belajar mengajar): 1) Mendahulukan kesucian jiwa. 2).Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan. 3) Jangan menyombongkan ilmunya dan menentang guru. 4) Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan. 5) Peserta didik hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a)Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik senantiasa mensucikan jiwanya dengan akhlaq al-karimah (Q.S. Al-An’am: 162, Adz Dzaariyaat:56). b) Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi (Q.S. Adh Dhuhaa:4). c) Bersikap tawadhu’ (rendah hati). d)Menjaga pikiran & pertentangan yang timbul dari berbagai aliran. e) Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, untuk ukhrawi dan duniawi. f) Belajar dengan bertahap atau berjenjang, dimulai pelajaran yang mudah (konkret) menuju pelajaran yang sukar (abstrak) atau dari ilmu fardlu ‘ain menuju ilmu fardlu kifayah (QS Al-Fath:9). g) Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam. h) Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi. i) Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat yang dapat membahagiakan, mensejahterakan serta memberi keselamatan hidup dunia akhirat.
Dlm proses pendidikan, pembelajaran, kedudukan ilmu sangat menentukan bagi keberhasilan pendidikan, baik bagi pendidik/guru maupun murid, karena kemampuan penguasaan ilmu lah dg pemanfaatan anugrah akal, yg menjadi pembeda manusia dg makhluk lainnya. Al Ghazali tidak hanya bicara ilmu diniyah namun juga ilmu lain yg bermanfaat bagi pelaksanaan tugas kekhalifahan di muka bumi, hanya ada penekanan prioritas pd ilmu agama sebagai sarat utama pengabdian, ibadah pd Allah swt, karena untuk itulah manusia dan jin diciptakan (wama kholaqtu al jinna wa al insana ila li ya’buduun). Dalam konteks itu, maka perlakuan pd ilmu (interaksi dg ilmu) haruslah dilakukan dg hormat dan tawadhu, karena Belajar itu merupakan proses jiwa yang menuntut konsentrasi, oleh karena itu murid perlu memusatkan fikiran dan perhatiannya terhadap ilmu yang sedang dikaji, disamping tentunya Harus mengetahui nilai dan tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, serta dapat dipraktekkan dengan dan dlm akhlaqul karimah. Dlm pandangan Ghazali menuntut, belajar, mengajar ilmu bukanlah untuk sembarang ilmu, karena Ilmu mempunyai nilai dan muatan/konten yang bebeda-beda, begitu pula tujuannya, ada yang sangat penting, kurang penting dan tidak penting.
Apa  yang diajarkan tentu harus dilihat substantif  ontologinya dan fungsional kontennya secara epistemologis dan axiologis, yang terarah bagi kebaikan di dunia dan akherat (Fiddunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah). Al Ghazali membagi ilmu dalam beberapa perspektif, dilihat dari substansi kebermanfaatannya dibagi ke dalam 3 kategori: 1) Ilmu yang tercela (al madzmum)  ialah ilmu yang tidak ada manfaatnya baik sedikit maupun banyak, untuk kehidupan yg baik di dunia maupun akhirat dan terkadang hanya membawa mudharat bagi orang yang memilikinya, maupun bagi orang lain, seperti sihir, nujum, ramalan. 2) Ilmu yang terpuji ialah ilmu, baik sedikit maupun banyak, dsn semakin banyak semakin baik, yang pantas untuk dipelajari (al-mahmud), ilmu-ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya. 3) Ilmu terpuji dalam kadar tertentu atau sedikit, dan tercela jika mempelajarinya secara mendalam, seperti ilmu logika, filsafat, ilahiyyat dan lain-lain. Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, Al-Ghazali membagi lagi menjadi dua bagian yang dilihat dari kepentingan dan tanggung jawabnya, yaitu: 1) Ilmu fardhu ain, yg harus diketahui oleh semua Muslim, yaitu ilmu agama terutama ttg peribadatan. 2) Ilmu fardhu kifayah yang dipelajari oleh sebagian Muslim untuk memudahkan urusan duniawi, seperti: ilmu hitung, kedokteran, teknik, ilmu pertanian dan industri.
Disamping berfikir ttg pendidikan dalam makna umum, Al Ghazali juga sangat memahami ttg pendidikan Anak2 sebagai fondasi bagi pendidikan selanjutnya, sehingga pada saat seorang muridnya hendak meninggalkan tempat belajarnya, dan meminta nasihat, Beliau menuliskannya dlm kitab kecil yg berjudul “AYYUHA AL WALAD” (Wahai Anak). Dia mengawali nasihatnya dengan kalimat yang sangat indah. Ia memanggil muridnya dengan panggilan penuh simpati dan kasih sayang serta mendoakannya: “Wahai ananda tercinta. Se moga Allah memanjangkan usiamu agar bisa mematuhi-Nya. Semoga pula Allah memudahkanmu dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya”. Selama berabad-abad, Kitab Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali dikenal sebagai salah satu kitab penting dalam pendidikan anak dan pendidikan jiwa manusia. Al-Ghazali hidup pada saat dunia Islam diuji dengan ‘Perang Salib’, dimana peran penting  dari para ulama dalam melahirkan generasi Shalahuddin (Shalahuddin Al Ayubi), yg kemudian berhasil membebaskan JERUSALEM. Itu semua diawali dengan pembenahan kon sep keilmuan dan pendidikan, yg antara lain dikembangkan oleh Al Ghazali. (Dr. Majid Irsan al-Kilani, “Hakadza Dhahara Jilu Shalahuddin wa-Hakadza ‘Adat al-Quds”).
Pendidikan anak merupakan fondasi penting bagi berkembangnya berbagai kemampuan dan potensi2 yg dimiliki anak sebagai anugrah Tuhan. Al-Ghazali (dalan Ihya Ulumu Addin)  menulis satu bab khusus tentang pendidikan anak dg judul “Bayânu Tharîq fi Riyâdhat al-Shibyân fî Awwali Nasy’ihim wa Ta’dîbihim wa Tahsîni Akhlâkihim” (Penjelasan metode/cara melatih anak pada masa pertumbuhan, mendidiknya dan memperbaiki akhlaknya), yg mengingatkan pentingnya pendidikan anak: “Ketahuilah! Sesungguhnya metode pendidikan anak merupakan hal yang paling penting dan paling ditekankan. Anak-anak itu adalah amanah bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang suci merupakan permata yang paling berharga, belum terukir dan terbentuk. Ia menerima setiap bentuk ukiran dan cenderung kepada setiap hal yang digiring kepadanya. Jika dibiasakan yang baik, dan diajarkan kebaikan maka ia akan tumbuh menjadi baik dan bahagia di dunia dan akhirat. Ayahnya, gurunya dan setiap orang yang mendidiknya juga akan mendapatkan pahala. Akan tetapi bila dibiasakan dg keburukan, dan dibiarkan seperti binatang maka ia akan celaka dan binasa. Dan dosanya ditanggung oleh orangtuanya”.  Selanjutnya Dia memberikan metode pendidikan anak yg dapat dikemukakan sbb: 1) orangtua (Sekolah) wajib mendidik anak-anaknya dengan adab/akhlak yang terpuji, dan dilaksanakan dg percontohan, teladan. 2) menyarankan agar  anak-anak diajarkan al-Qur’an, Hadits, dan kisah, sejarah orang2 saleh/baik, disamping itu  ilmu syair-syair (bahasa, sastra) yang Islami juga perlu untuk menanamkan cinta keindahan. 3) menanamkan, membiasakan  kedisiplinan yg disertai keadilan serta gunakan reward tuk memotivasi belajar anak. 4) perlunya diimbangi dg pendidikan, latihan fisik, olah raga untuk menjaga kesehatan. 5) beri waktu dan  izin anak untuk bermain setelah belajar untuk melunakan hati mereka, melarang bermain akan membuat hati anak menjadi keras dan menurunkan semangat belajar.
Lebih lanjut, Dia mengatakan bahwa Anak juga perlu dididik, diajari bagaimana pergaulan, interaksi dosial yg beretika, sopan dan santun. Dalam pergaulannya anak-anak harus dididik berbahasa yang santun, bersikap rendah hati (tawadhu’), menghormati orang yang lebih tua, mencegah dari mengambil hak orang lain, dan menanamkan dalam diri mereka bahwa kemuliaan seseorang itu ada di dalam sikap memberi kepada orang lain. Anak juga harus dididik agar tidak terlalu banyak bicara, mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dan tidak mudah bersumpah meskipun dia benar. Adab-adab ini penting untuk diamalkan khususnya ketika mereka berhadapan dengan orangtua, guru ataupun orang lain yang lebih tua. Sementara dalan Aspek ibadah, orangtua hendaknya memperhatikan ibadah anak-anaknya, membiasakan anaknya dalam keadaan bersuci (dawâm al-thahârah), mendirikan shalat, berpuasa Ramadhan sesuai kemampuan. Pembiasaan ibadah sejak kecil ini penting untuk dilakukan agar ketika si anak dewasa dia sudah terbiasa melaksanakan perintah Allah dengan senang hati. Dalam praktek pendidikan, pembelajaran, pendidik, guru harus memahami perbedaan kemampuan anak (peserta didik), ” seorang pendidik (guru) hendaknya menyesuaikan dg kemampuan pemahaman murid. Jangan sampai mengajarkan materi pelajaran yg belum bisa dijangkau fikiran mereka. Itu akan berakibat murid akan menolak, atau terpaksa menerimanya meskipun ia tidak faham”. Bila dlm belajar terdapat prilaku yg buruk dan lambat dlm pemahaman, janganlah murid dipermalukan, “cegahlah (tegurlah) kejelekan (akhlaq) murid, sebisa mungkin dg cara sindiran, tidak secara terang2an serta dg rasa kasih sayang, tidak dg cemoohan”.
Pemikiran Al Ghazali tentang Pendidikan menunjukan suatu integrasi komprehensif dg kehidupan holostik manusia sebagai pembentuk masyarakat yg dibangun atas dasar2 keagamaan, dimana agama menjadi fondasi masyarakat etis religius, yg akan membangun manusia dng pendidikan yg juga sejalan dg masarakat yg terbangun (dibentuknya). Al Ghazali tidaklah secara tegas menjulaskan tentang pendidik yg mandiri secara profesi, namun lebih menjelaskan ulama ( tunggalnya Alim, orang yg berilmu) sebagai orang yg menjalankan tugas mendidik, mengahar, menyebarkan ilmu, dan tentunya berdakwah. Dari sini secara anatomis istilah ulama mencakup tiga unsur yakni Orang (Alim/Ulama), ilmu (materi), dan murid (artinya yg menginginkan ilmu). Oleh karena itu pendidikan selalu membicarakan karakter dan kompetensi Ulama (Pendidik, pengajar), ilmu dan keutamaannya, serta etika murid. Pendudik harus menghormati dan bersungguh sungguh dlm menguasai ilmunya, dia harus hormat, dan tawadhu terhadap ilmu, serta melihat secara moral, etika dlm menimbang kemanfaatan dan kemaslahatan ilmu. Terkait dg murid Pendidik harus memperlakukan mereka  penuh kasih sayang, jangan permalukan mereka bila ada kesalahan atau kekurangan, serta dituntut pula untuk memahami karakter para murid, agar pendidikan, pembelajaran efektif berdampak pd fikiran, sikap dan prilaku murid yg berakhlaq mulya.
Sementara itu murid harus menghormati dan tawadhu dihadapan Guru/ulama/pendidik, menghormati ilmu dan sungguh2 mempelajarinya hingga penguasaannya optimal dan dpt melekat kemanapun murid pergi dan dimanapun murid berada (dari sini bermakna bahwa “ILMU TAK BERAT DIBAWA SEBANYAK APAPUN”, klw buku/kitab pasti berat dibawa, makin banyak makin berat..implikasi nasihat Perampok pd Al Ghazali. Juga perkataan Ali Bin Abi Tholib ketika ditanya: “AYUL AFDHOLU? AL ILMU AMIL MAAL? ALI MENJAWAB : AL ILMU AFDHOLU MINAL MAAL, AL ILMU YAHRISUKA WAL MAALU TAHRISUHU/Ilmu menjagamu dan kamu menjaga harta). Dengan demikian terdapat siklus pendidikan yg membentuk TRILOGI PENDIDIKAN yaitu “–> PENDIDIK –> ILMU –> MURID –> dg posisi Ilmu paling utama karena pendidik/guru dan murid sama sama berkhidmat dan tawadlu pada ilmu, dan juga ilmu sebagai salah satu peninggi derajat, posisi manusia di mata Tuhan (Yarfaillahu alladzina amanu minkum walladzina utul ilma darojat, QS:58:11). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Az Zarnuji tentang Pendidikan (2)

Az Zarnuji tentang Pendidikan (1)

Ontologi Pendidikan