Ibnu Khaldun tentang Pendidikan

Ibnu Khaldun tentang Pendidikan

IBNU KHALDUN,  Hidup sekitar 200 tahun pasca Al Ghazali dan sekitar 100 tahun sesudah Az Zarnuji. Nama lengkapnya: Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami, lahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 – meninggal 19 Maret 1406 dalam  usia 73 tahun. Dia adalah seorang sejarawan dan sosiolog muslim, yg sudah hafal Quran ketika usia 12 tahun, Dia hidup dalam kondisi politik yg labil pasca kejatuhan dinasti abasiyah sehingga sering berpindah pindah tempat untuk memperoleh kerentraman yg diperlukan dlm menuangkan fikiran fikirannya. Karyanya yang terkenal sampai sekarang adalah Kitab Muqaddimah (Pendahuluan) yg mengantarkan buku utamanya "Al Ibar wa Diwan al Mubtada wa al Khobar, fi Ayyam al Arabi wa al Ajami wa al Barbar, wa Man Asrahum min Dzawi Al Sulrhon al Akbar". Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun membagi dalam enam bab dimana bab terakhirnya membahas tentang Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan. Dengan Tulisannya yg mendalam dan luas dlm Muqaddimah serta Tulisan2 lainnya, Ibnu Khaldun pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya.  Ketika usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan/observasi terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas. Kehidupan Ibn Khaldun didokumentasikan dengan baik, saat dia menulis sebuah otobiografi, di mana banyak dokumen mengenai kehidupnnya menjadi rujukan.
Dari perjalanan hidupnya, kita bisa tahu betapa luas dan dalamnya pengamatan yg dilakukan olehnya, dilihat segi geografis sosial budaya, variasi budaya dialami dlm perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, disamping memahami secara mendalam berbagai masalah sosial melalui keterlibatan dlm kebijakan pemerintahan berbagai kekuasaan politik, dg berbagai konflik dan intrik yg dialaminya, yg semuanya bermuara pd perebutan pengaruh dan kekuasaan. Dari sini Ibnu Khaldun berpendapat bahwa kehidupan sosial masyarakat selalu memiliki sejarahnya yg khas yg membentuk budaya masing2, untuk itu sejarah tak hanya sekedar berbicara ttg  tahun, kejadian tanpa melihat kausalitasnya, karena nanti sejarah hanya jadi masa lalu yg antik tanpa dapat memberi nilai dan pemahaman pd apa yg terjadi serta apa yg akan terjadi, sehingga sejarah menjadi suatu fakta yg hidup dan menjelaskan kehidupan, oleh karena itulah dia disebut sejarawan dan sosiolog yg berpengaruh dlm melihat perkembangan masyarakat dalam perspektif waktu (Sejarah adalah sosiologi mas lalu, dan sosiologi adalah sejarah masa depan). Dlm konteks inilah Pendidikan dipandang sebagai fenomena sosial yang telah terbentang dalam sejarah panjang kehidupan manusia yang selalu melekat dalam setiap kebudayaan masyarakat manusia, dia merupakan instrumen pennyaluran nilai, budaya dan keyakinan2 dari generasi ke generasi. Ibnu Khaldun berpandangan bahwa pendidikan (belajar pembelajaran) merupakan suatu ciri dari sifat2 peradaban, dimanapun ada peradaban, maka pendidikan dan ilmu pengerahuan tumbuh dan berkembang.
Ibnu Khaldun lebih melihat pendidikan dlm praktek yg inheren dg masyarakat dan perkembangan peradaban (makro pendidikan), oleh karena itu cukup dpt difahami Dia tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas dalam konteks keilmuan, ia hanya memberikan gambaran-gambaran secara umum pendidikan yg ada dalam dinamika peradaban masyarakat, namun tetap menyadari arti penting pendidikan serta posisinya dlm konteks masyarakat dengan pendapatnya bahwa Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman. Ini menunjukan bahwa secara empiris, sebagai makhluk sosial, pendidikan tak bisa dihindari, hanya yg mana yg berperan utamanya, meskipun hal itu tak bersifat mengganti, hanya sekedar komplementer saja satu sama lain. Jika orang tua tak mendidik, jaman akan mengejarnya, dan ini tentu perlu jadi penguatan kesadaran dan tanggung jawab bahwa pendidikan tak bisa diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Dlm konteks sekarang "jika orang tua, guru tak mendidik anak2 dg baik, maka jaman akan menggerusnya dg pendidikan yg keras dan kasar serta cenderung tak beretika". Dari pendapatnya sebagaimana dikemukakan terdahulu, mengindikasikan bahwa pendidikan  mempunyai pengertian yang  luas. pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar dlm lingkup terbatas, tetapi pendidikan adalah suatu proses dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap dan menghayati peristiwa-peristiwa  yg dialami dlm hidup manusia baik terkait dg kejadian natural maupun sosial budaya masyarakat. 
Pendidikan bisa merupakan suatu kejadian maupun tindakan. Segala sesuatu yang terjadi tanpa direncanakan namun memberi efek perubahan dapat dipandang sebagai pendidikan (lebih tepatnya belajar), sedang bila suatu budaya dan peradaban memiliki suatu keinginan, arah dan atau tujuan yang ingin diwujudkan bagi kesinambungan masyarakatnya, maka mereka akan membangun suatu siatem atau cara bagaimana anak2 sebagai penerus harus dibangun, dan ini tentu mendorong pada pengembangan siatem pendidikannya, karena hanya dengan cara ini kesiapan generasi pelanjut suatu budaya, peradaban dan kekuasaan dapat dirancang dlm kesinambungan. Oleh karena itulah Ibnu Khaldun berpandangan bahwa, sebagaimana dikemukakan terdahulu, dimana ada suatu peradaban, disitulah ilmu dan pendidikan berkembang. Dlm melihat pendidikan sebagai bagian dari suatu peradaban, maka ilmu menjadi hal utama yg harus jadi isi pendidikan, pembelajaran. Dari sini (ilmu yg berkembang, dikembangkan, dan diajarkan) dapat dilihat arah dari suatu peradaban berkembang kedepan karena ilmulah yg menjadi fondasi, isi serta enerji dari suatu kelangsungan peradaban yg berkembang dan terus bertahan. Untuk itu Ibnu Khaldun mengklasifikasikan secara umum ilmu ke dalamndua kelompok besar yaitu: 1) Ilmu Naqliyay, adalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas Syariat yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits. Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa arab, ilmu tasawwuf, dan ilmu ta’bir mimpi (Ibnu Khaldun, Mukaddimah, Terj Mastur Irham dkk, Jakarta: Pustaka al-Kautsar,2011). 2) Ilmu Aqliyah (Ilmu-ilmu Filsafat atau ilmu Rasional). Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya akal, rasio berfikir.  Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu yaitu: Ilmu Logika, Ilmu Fisika, Ilmu Metafisika dan Ilmu Matematika.
Pembagian ilmu seperti dikemukakan terdahulu, kemudian untuk kepentingan pendidikan, pembelajaran bagi anak didik, murid, siswa, santri, diberi rincian perluasan ke dalam empat kelompok yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan dan prioritas mempelajarinya, yaitu: 1) Ilmu agama (syariat) yang terdiri dari tafsir, hadits, fikih, dan ilmu kalam. 2) Ilmu ‘aqliyah yang terdiri dari ilmu kalam, Fisika, metafisika (khususnya ilmu ketuhanan). 3) Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syariat), ilmu bahasa Arab (Nahwu, Shirof, Balaghoh), ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu pelajaran agama (khusnya hal Warist, muamalah, dan jual Beli). 4) Logika, Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, berfikir benar. Kedua kelompok ilmu yang pertama (no 1 dan no 2) itu adalah merupakan ilmu pengetahuan yang dipelajari karena faidah, kegunaan dari ilmunya itu sendiri. Sedangkan kelompok kedua (no 3 dan no 4)  merupakan ilmu sebagai alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang lainnya (no 1 dan no 2). Pembagian ini juga menunjukan bahwa diperlukan keseimbangan dalam pendidikan, antara aspek spiritual melalui ilmu agama dan intelektual melalui ilmu2 berfikir, filsafat. Untuk itu unstrumen untuk memahami dan mempelajarinya tentu menjadi keharusan, ilmu bahasa (Arab) menjadi penting tuk mendalami ilmu2 agama, memahami kitab suci Al Quran sebagai landasan utama ajaran agama (Islam), sementara berfilsafat, disamping memahami bahasanya juga dipetlukan memahami cara berfikir benar dan Logika menjadi ilmu alat untuk itu.
Ilmu memang jadi perhatian utama (seperti dlm pemikiran Al Ghazali, Az Zarnuji) dalam pemikiran pendidikan islam, karena ini substansi yg akan membentuk pengetahuan, sikap, nilai, keyakinan dan skill  seseorang (manusia peserta didik, siswa, murid, santri), sehingga kebaikan ilmu dan manfaatnya selalu ditimbang dari aspek keagamaan. Namun demikian hal itu tak berarti komponen lain tak diperhatikan, adab etika bagi murid, dan guru akan menentukan perjalanan menuntut ilmu, belajar pembelajaran, terkait dg pendidik, guru Ibnu Khaldun berpandangan bahwa Pendidik haruslah orang yang berpengetahuan luas, dan mempunyai kepribadian yang baik dan bisa menjadi contoh atau suri tauladan bagi peserta didiknya. Ibnu Khaldun menganjurkan  para guru untuk bersikap dan berperilaku penuh kasih sayang kepada peserta didiknya, mengajar mereka dengan sikap lembut dan saling pengertian, tidak berperilaku keras dan kasar, sebab sikap demikian dapat membahayakan peserta didik, dan dapat merusak mental mereka, peserta didik bisa menjadi berlaku pembohong, pemalas dan bicara kotor/tak sopan, serta berpura-pura bersikap baik, karena didorong rasa takut dimarahi guru atau takut dipukuli. Contoh, keteladanan guru yang merupakan hal utama, penting  dalam pendidikan, sebab para peserta didik menurut Ibnu Khaldun lebih mudah dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan serta nilai-nilai luhur yang mereka saksikan, dari pada yang dapat dipengaruhi oleh nasehat, dan atau perintah-perintah, karena peserta didik cenderung mengimitasi/memodelkan prilaku yg dicontohkan (dlm konteks teori belajar kontemporer masuk dlm belajar sosial yg efektif/social learning theory).
Pendidik, guru, ustadz disamping harus menguasai ilmu secara luas, memperlakukan peserta didik penuh kasih sayang serta memberi contoh teladan, juga harus mendalami karakteristik peserta didik untuk dapat memperlakukanya dg tepat sesuai kondisi masing2 peserta didik. Dia menganjurkan agar guru-guru mempelajari sungguh-sungguh perkembangan akal pikiran murid-muridnya, karena anak pada awal hidupnya belum memiliki kematangan pertumbuhan,“Kita telah menyaksikan kebanyakan guru pada masa itu tidak mengetahui metoda pengajaran dan cara penggunaannya, sehingga mereka hadir di depan murid-muridnya dengan mengajarkan permasalahan yang sulit dipahami, dan mereka menyuruh agar memecahkannya (menganalisanya) dan mereka menduga bahwa cara demikian akan memperkembang pengajaran dan mengandung kebenaran, padahal kemampuan menerima pengetahuan di kalangan murid dan kematangannya, berkembang secara bertahap. Itulah sebabnya murid mula-mula lemah pemahamannya terhadap keseluruhan ilmu, kecuali dengan jalan mendekati dan memperbaiki dengan menggunakan contoh-contoh yang dapat diamati dengan pancaindera". Pendidikan, pengajaran harus sesuai dg tingkat kematangan peserta didik agar kapasitas sesuai dg kuantitas dan kualitas materi ajar yg disampaikan, sehingga pembelajaran dapat efektif serta membawa pd pendidikan yg optimal, mampu memperkuat kematangan peserta didik untuk berkembang lebih jauh, serta tak terjadi overlearning yg bisa berakibat regresi kapasitas belajar peserta didik yg akan mengganggu perkembangan tingkat kematangan.
Pemahaman terhadap anak, peserta didik, murid, santri menjadi faktor yg menentukan bagi efektivitas pendidikan, pembelajaran, karena sesulit dan semudah apapun suatu materi ajar akan terdistorsi jika dilakukan dg cara, metode yg tak sesuai dg kematangan siswa (dlm konteks teori belajar ini selaras dg ZPD dari Vigotsky serta proses Scaffolding). Ini mengindikasikan bahwa Ibnu Khaldun berpendapat, efektivitas metode pendidikan, pembelajaran bergantung pada sejauh mana kematangan persiapan guru dalam mempelajari hidup kejiwaan anak-anak didiknya. Sehingga diketahui sejauh mana kematangan kesiapan mereka dan bakat-bakat ilmiahnya. Oleh karna itu seorang guru hendaknya memiliki kemampuan memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang baik dan benar, dan efektif dg dasar penguasaan ilmu yang luas dan mendalam untuk disampaikan, serta mampu memperhatikan, memahami serta menerapkan metode sesuai kondisi psikologis anak didik, dan itu hanya dapat terjadi,  bila pendidikan dan  pembelajaran, dilakukan dengan penuh kasih sayang serta perhatian penuh pd peserta didik.
Metode (yg sekarang dikembangkan pd konsep yg melingkupinya seperti Model, Strategi) sebenarnya merupakan suatu situasi dan tak melekat pada individu, artinya memerlukan suatu interaksi sosial edukatif, dan ini ketika diterapkan perlu kapasitas pendidik serta kesiapan peserta didik. Ibnu Khaldun mengatakan terkait sistem dan interaksi sosial: "perlu ada yg berjongkok untuk memberi jalan kemajuan". Ini mengindikasikan bahwa dlm pendidikan, pembelajaran  "apa memerankan apa, bagaimana, pada siapa dan dlm situasi apa perlu jadi pertimbangan, apa guru yg berdiri atau jongkong, situasi interaksilah yg menentukan pilihan. Hal ini juga menuntut skill dan gesture yg tepat, utulah kenapa tak ada metode yg sapu jagat karena dlm tataran praktis kesiapan dan kapasitas yg berinteraksi serta suasana interaksi akan jadi penentu keefektivan pendidikan, pembelajaran. Meski demikian Perlu difahami metode2 pendidikan, pembelajaran sebagai pendasaran kapasitas ketika pengajaran sudah masuk dlm aspek seni (education, learning is not only a science but also an art), dimana skill gesture jadi yg penting di dalamnya dan ini yg diperlukan berlatih terus menerus. Dlm hal ini Ibnu Khaldun mengemukakan beberapa metode yg dipandang tepat pada saat itu berdasarkan hasil amatan yg dilakukan dlm berbagai bangsa yg dikunjunginya. Secara umum Dia mengemukakan tentang metode Tadarruj Wat Tikrori (Metode Pentahapan dan Pengulangan, mungkin ini lebih tepatnya model atau strategi). Menurut Ibnu Khaldun, metode Tadarruj yaitu mengajarkan anak-anak atau remaja hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip pandangan bahwa tahap permulaan pengetahuan adalah bersifat total (keseluruhan), kemudian secara bertahap, baru terperinci (mirip Psikologi Gestalt), agar anak dapat menerima dan memahami permasalahan pada tiap bagian dari ilmu yang diajarkan, kemudian mentrabsformasikan ilmu itu dengan penjelasan dan uraian-uraian sesuai tingkat kemampuan berpikir anak-anak, peserta didik tersebut serta kesiapan kemampuan menerima materi apa yang diajarkan.
Sejalan dg tradisi pendidikan masa itu seperti yg dikemukakan oleh Al Ghazali, Az Zarnuji juga yg lainnya tentang penguasaan ilmu pengetahuan, maka Ibnu Khaldun pun berpandangan pentingnya pengulangan2 dlm belajar agar memori dpt jadi penyimpan informasi ilmu pengetahuan hingga mampu memunculkan kembali dg cepat (ini juga terjadi pada para imam mazhab, serta akhli hadis, yg berusaha keras untuk mampu menghafal pengetahuan yg diperolehnya dg pengulangan2 yg ketat). Dan metode pengulangan juga perlu dilakukan oleh guru agar mengulangi lagi ilmu yang diajarkan itu agar anak-anak meningkat daya pemahamannya sampai kepada taraf yang tertinggi melalui uraian dan pembuktian yang jelas, setelah itu beralih dari uraian yang global kepada uraian yang hingga tercapai tujuan akhirnya yang terakhir, kemudian diulangi sekali lagi pelajaran tersebut, sehingga tidak lagi terdapat kesulitan murid atau anak untuk memahaminya dan tak ada lagi bagian-bagian yang diragukan, inilah yg dimaksud dg metode "Attiqror", dimana: ulang yg umum kemudian lanjut ke perincian ilmu agar dapat diperoleh pemahaman holistik dari suatu ilmu pengetahuan.   Pengulangan secara bertingkat ini, menurut pendapat beliau, sangat besar faedah dalam upaya menjelaskan dan memntapkan ilmu ke dalam jiwa anak serta memperkuat kemampuan jiwanya untuk memahami ilmu. Tujuan mempelajari ilmu tersebut adalah kemahiran anak dalam memahami dan mengamalkannya, serta mengambil manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. Alasan mengulang-ulang sampai beberapa kali (lebih dari sekali) dikarenakan  kesiapan dan pemahaman anak akan ilmu pengetahuan  terjadi secara bertahap.
Ibnu Khaldun juga mendorong pd penggunaan media belajad/alat-alat peraga, karena anak pada waktu mulai belajar permulaannya lemah dalam memahami dan kurang daya pengamatannya (berfikir konkrit). Alat-alat peraga itu membantu kemampuan memahami ilmu yang diajarkan kepadanya, dan hal inilah yang ditekankan oleh beliau, karena memang anak bergantung pada panca inderanya dalam proses penyusunan pengalamannya. Dalam pekerjaan mengajar alat-alat peraga tersebut merupakan sarana pembuka cakrawala yang lebih luas, yang berlawanan dengan kebiasaan merumuskan kalimat-kalimat yang ditulis atau diucapkan, di samping itu juga alat peraga ini menjadikan pengetahuan anak bersentuhan dengan pegalaman indrawi yang hakiki. Selain itu Ibnu Khaldun pun berpandangan bahwa study tour Widya-wisata) dapat menjadi metode pembelajaran penting dlm menuntut ilmu guna  medapatkan Pengalaman yang Langsung baik dlm pengalaman objek maupun pengalamn belajar dari sumbernya, dan peserta didik dpt menggali pengetahuan berdasarkan observasi langsung yang akan  memperjelas pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan. “Sesungguhnya melakukan perlawatan (Rihlah) untuk menuntut ilmu dan menjumpai para ahli ilmu pengetahuan dan tokoh-tokoh ilmu dan tokoh pendidikan, menambah kesempurnaan ilmu mereka, sebab banyak orang menimba pengetahuan dan akhlak serta aliran paham yang dianut serta keutaman-keutamaan mereka; kadangkala dengan cara menukil ilmu, mempelajari atau menerima kuliah, dan kadang kala dengan cara meniru dan belajar melalui peergaulan dengan mereka. Sedangkan keberhasilan mendapatkan pengetahuan dengan bergaul (interaksi langsung dg guru) dlm menerima pelajaran akan lebih mendalam dan lebih kuat kesannya daripada cara lain, apalagi melalui banyak guru yang ilmunya bermacam-macam". Meskipun tetap harus memperhatikan kerumitan ilmu yg dipelajari, belajar, mengajarlah dengan dan dari yg mudah.
Pemikiran2 pendidikan merupakan ekspresi pemikiran terdokumentasi dari suatu peristiwa, kejadian pendidikan baik yg berbasis rasionalitas normatif, maupun rasionalitas empirik. Proses pendidikan, belajar pembelajaran terus  terjadi dalam perjalanan hidup manusia sejalan dg peradaban, budaya yg dikembangkannya atau yang berkembang sebagai jaring nilai yg menelikung hidup dan kehidupan manusia. Tiga pemikir pendidikan, Al Ghazali, Az Zarnuji, dan Ibnu Khaldun hanya sebagian kecil dari pemikir Islam yang meskipun bukan fokus dlm bidang ilmu pendidikan, namun mereka pelaksana pendidikan yg banyak melahirkan ulama, guru ustadz yg menyambungkan khasanah ilmu, model prilaku dari generasi ke generasi, yg sampai sekrangpun ruh, jejak  pemikirannya memiliki pengaruh besar dlm pendidikan baik disadari ataupun tidak. Bila dikelompokan 3 pemikir tersebut secara substantif dapat dipandang mewakili dua arah atau basis berfikir yang berbeda meskipun kadang terdapat hal2 yg paralel dan komplementer. Al Ghazali dan Az Zarnuji mewakili pemikiran pendidikan yg normatif dg dasar kokoh pada nilai2 agama, sehingga posisi ilmu, adab, etika bagi guru juga siswa menempati posisi penting disamping ada juga hal empiris dari pengalamannya sebagai penuntut ilmu dan sebagai guru. Sementara Ibnu Khaldun lebih pada pemikiran pendidikan yg memiliki basis empiris kuat dg rihlah, pengalaman di berbagai negara yg dia kunjungi meskipun tetap memperhatikan nilai2 dasar agama akan kewajiban menuntut ilmu. Oleh karena itu dua arah ini cenderung berkembang dlm.alur masing masing yg mungkin secara kelembagaan sekarang ini dpt dianalogikan yang satu dlm bentuk Pesantren (normatif) dan yg satunya lagi dlm bentuk Sekolah/Madrasah (empirik).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ontologi Pendidikan

Az Zarnuji tentang Pendidikan (2)

Az Zarnuji tentang Pendidikan (1)