Minggu, 03 Juli 2016

Orientasi Filsafat Berbasis Tokoh

SOCRATES DAN PLATO

SOCRATES. Dia adalah filosof besar. Hidup di Athena Yunani antara tahun 470 sampai 399 SM. anak dari ayah seorang pemahat dan ibu seorang bidan. Dia pernah jadi tentara yg kuat dan berani. Integritasnya mengagumkan dan prilakunya yang tawadhu menjadikan dia sebagai inspirator kaum muda saat itu. filsafatnya fokus pada manusia  dalam memahami hidup dan kehidupan serta menjalaninya dengan logis, etis dan estetis dengan selalu mencari tahu dan kebenaran dengan cara dialog (critical dialectics)...BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 1....(SOCRATES). Dialog (dialektika kritis) merupakan dialog dua atau lebih pendirian yang berbeda (bertentangan) menuju pertemuan antar ide, dengan cara ini SOCRATES bertindak seperti bidan yang menolong kelahiran bayi (hadiwoyono). Pendirian/ide tidak diterima begitu saja tapi dilakukan uji bukti dan SOCRATES serta yang diajak dialog tidak merasa dirinya yang paling benar karena perspektif memiliki variasi yg perlu dihormati ...BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 2...(SOCRATES). Dengan jalan dialog pemikiran terus meningkat dan ide ide akan makin terdalami teruraikan, oleh karena itu dalam perspektif ini metodenya sering juga disebut MAINEUTIKA/PENGURAIAN. Dengan metode seperti itu golongan SOFIS yang mencari kebenaran melalui RETORIKA menganggapnya sebagai perongrong namun kaum muda sangat menyukainya karena pencarian atau pemerolehan pengetahuan, kebenaran dilakukan secara egaliter dan bukan retoris yang lebih menekankan pembenaran bukan kebenaran...BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 3...(SOCRATES)..Dia berjalan jalan untuk menemui berbagai kalangan dari para akhli dan masyarakat umum. Dia berdialog, bertanya tentang berbagai hal mengenai hidup dan kehidupan manusia secara spesifik kemudian jawabannya dikaji bersama sampai sering terbukti kekeliruan dan dari sini dialog terus dilakukan untuk mendapatkan kebenaran/pengetahuan yang benar secara umum. Karena inilah SOCRATES dipandang menerapkan berfikir INDUKTIF yg bergerak dari kasus khusus menuju ke kebenaran umum (Universal)..BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 4... (SOCRATES).. dengan metode induksi dia mencari dan menggali tentang tujuan hidup dan tujuan hidup yang benar adalah EUDAIMONIA (kebahagiaan jiwa) dan itu bisa dicapi dengan ARETE (virtue, kebajikan, keutamaan), yang adalah pengetahuan yang benar yg menjadi dasar sikap dan tindak, sehingga muncul kebijakan (WISEDOM), untuk itu orang harus terus mencintai kebijakan (PHILOSOPHIA)."wisedom adalah sesuatu yang luhur dan hanya dimiliki Tuhan. Sebutan yang bersahaja adalah pecinta wisedom atau akhli filsafat" (Phaedrus, dalam H.C. Webb)..BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 5.. (SOCRATES) .Dalam usia tua 70 TAHUN socrates harus menerima tuduhan  murtad pada Para dewa yunani dan telah menghasut para pemuda. Dan setelah disidangkan dia dihukum mati dengan jalan minum racun. Meslipun sahanatnya mengajak tuk melarilan diri namun dia tidak mau. Akhirnya dia meninggal setelah meminum racun dan ketika petugas pembawa racun dan menyerahkannya padanya  socrates menerima dan bertanya cara meminumnya..tidak menolak tidak berontak dan melakukannya dg sadar. Bukan karena menerima tuduhan yg telah ditolaknya dlm sidang tp leyakinan akan kebenaranlah yg ditunjukan dg berani meski harus mati karenanya..sungguh lematian yang estetis karena mempertahankan kebenaran logis dan leutamaan etis. .. BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 6...(SOCRATES). Dia mati secara fisik..ide pemikiran, serta model prilaku terus diabadikan para muridnya. PLATO adalah murid terbesar penerusnya dalam melanjutkan, memelihra, mengembangkan ajarannya. SOCRATES memang tidak menuliskan ide dan fikirannya karena alasan dia tak tahu apapun jadi apa yang dapat ditulis (kerendahan hati). PLATO lah yang utama mengenalkan ajaran SOCRATES, dan menulisnya dalam format dialog dg temannya yang berkunjung ke penjara menjelang hukuman matinya. Ini menjadi dasar dan latar tulisan PLATO tentang ajaran SOCRATES yang terlihat dari TETRALOGI nya PLATO  terdiri dari EUTHYPHRO, APOLOGY, CRITO, dan PHAEDO... BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 7... (SOCRATES). EUTHYPHRO menggambarkan kekhawatiran dalam menghadapi dengar pendapat awal atas tuntutan kemurtadannya serta konsekwensi untuk menemukan makna keshalehan hakiki. APOLOGY menggambarkan pembelaan di depan pengadilan serta ajuan hukuman yg mungkin setelah mendengar bahwa pengadilan sepakat menghukum mati. CRITO menggambarkan kehidupan di penjara ketika menanggapi teman temannya yg mengatur pelarian dari penjara. PHAEDO menggambarkan perbincangan di hari terakhir menjelang kematiannya tentang keabadian jiwa serta meyakinkan teman temannya akan nasibnya (Tredennick dan Tarrant, 2003)...BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 8.. (SOCRATES). Tetralogi Plato disusun dalam bentuk dialog kecuali Apology. Didalamnya berbicara tentang pengetahuan, kesalehan, keberanian, kebijakan kebajikan hidup dan kehidupan manusia. Namun semua itu sering dipandang bukan murni ajaran SOCRATES, karena polesan bisa terjadi mengingat Plato sendiri adalah seorang filosuf yg juga muridnya. Meskipun begitu dewasa ini Plato menjadi juru bicara hostoris yang diandalkan dalam memahami SOCRATES, dibanding tulisan murid-murid lainnya seperti Aristhopanes (penulis drama komedi), Xenophone (dipandang kurang bakat dalam Filsafat) yg menulis dialog kecil dlm Memorabilia. Aristhopanes menggambarkan SOCRATES sebagai seorang yang korup terhadap anak muda dan tidak mengakui dewa yang dipuja seluruh negeri/Yunani. Sementara Xenophone menggambarkan SOCRATES sebagai orang yg shaleh, mampu menjaga diri. Suatu penggambaran yg bertentangan dan patut difahami...BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 9... (SOCRATES). Kebohongan tuduhan.  yg coba digambarkan Aristbopanes mendapat dukungan massa dan nevara sampai akhirnya SOCRATES dihukum mati. Sementar penggambaran sebagai orang bijak (Xenophone, Plato) menjadi suara minor yg kalah/mengalah pada saat itu, namun sejarah menunjukan suara minor kalau kebenaran tetap jadi pemenang dan sekarang ini SOCRATES diposisika. Sebagai orang. Bijak filosuf yg mati demi mempertahankan kebenaran..BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 10... (SOCRATES). Kebebaran obyektif merupakan esensi ajarannya dalam melihat realitas hidup, kebenaran harus merupakan sesuatu yg benar dimanapun dan kapanpun.. Ini sebagai kritik dan koreksi atas dominasi pemikiran kaum sofis yg melihat kebenaran secara relatif tergantung kemampuan retorika yg disetujui masyarakat (umum), artinya yg benar disini tidak harus benar disana. Dengan metode dialektis SOCRATES berpandangan bahwa manusia harus mengutamakan kebahagiaan jiwa yg pencapaiannya melalui arete, dan ini berlaku dimana saja serta pada siapa saja, oleh karena itu pemerintah/penguasa harus tahu yg baik dan mengenalkan/mendidik masyarakat ttg yg baik dengan keutamaannya yaitu pengetahuan yg baik..BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 11... (SOCRATES). Untuk mengetahui yg baik dan menjalankan kebenaran perlu perjuangan, dan ujian akan dihadapinya, itulah hidup yg layak karena kehidupan dan hidup yg tak teruji tak layak dijalani (APOLOGIA, PLATO). Kebenaran pasti menang, kebenaran itu tak dapat kamu lawan. Yg bisa kamu lawan adalah SOCRATES (SYMPOSIUM, PLATO). Dia dihukum mati, dia mati, tapi kebenaran tetap berjalan terus menginspirasi dan menggerakan pemikiran dan kehidupan baru yg terus terbarukan..BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 12... (SOCRATES). KonsistensiNYA untuk berfikir benar dan bertindak baik sesuai kebenaran menjadi model existensial hidup dan kehidupanNYA. Berikut akandikemukakan kutipan panjang perkataan SOCRATES yang dituturkan Plato dalan PHAEDO: Tampaknya hanya ada satu jalan sempit yg bisa kita tempuh dg selamat untuk mencapai tujuan akhir perjalana kita, dengan akal sebagai penuntun. Selama kita masih mempunyai tubuh - ditambah kejahatan yg bisa merasuki jiwa kita, kita tak bakalan bisa sepenuhnya mencapai apa yg kita kehendaki, yakni kebenaran....BERSAMBUNG
SAMBUNGAN 13... (SOCRATES). Tubuh selamanya menyia nyiakan waktu kita dg tuntutannya. Sampai kapanpun tubuh menghalangi upaya kita mengejar keberadaan kita yg sejati. Tubuh memenuhi kita dg nafsu, keinginan, ketakutan, dan segala macam hayalan dan kebodohan. Tubuh menghalangi kita berfikir lurus. Tubuh dibarengi mafsu-nafsunya telah menyebabkan percekcokan, perpecahan sosial, dan perang...karena mementingkan tubuh, kita tak punya waktu untuk berfilsafat...BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 14... (SOCRATES). ... apabila kita mau memperoleh pengetahuan yg sejati, kita harus bebas dari tubuh, dan jiwa dapat melihat segala sesuatu apa adanya (pengetahuan sejati). Selama masih hidup, satu diantara dua hal ini pasti benar yaitu takkan peroleh pengetahuan sejati atau hanya bisa memperolehnya setelah mati karena jiwa berada pd dirinya sendiri. Namun ketika hidup kita bisa berada sedekat dekatnya dengan pengetahuan sejati jika tidak menyatukan diri dg tubuh melebihi keharusan..BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 15... (SOCRATES). ... Tibalah saatnya bagi kita tuk berpisah, aku akan menjalani kematian, kalian terus jalani hidup. Mana yg lebih baik adalah sesuatu yg tak diketahui siapapun, kecuali Tuhan (APOLOGI, Plato).Itulah SOCRATES..Yg hidup dalam ahir yg menyedihkan secara material fisikal, namun kebaikan pemikiran dan jiwanya mampu membungkusnya dengan indah dalam kerangka yg LOGIS, ETIS, ESTETIS..Sampai jumpa di WISATA AKAL DUA tentang murid dan juru bicaranya SOCRATES..yaitu PLATO...

PLATO.....salah seorang murid SOCRATES terpenting dalam melanjutkan dan mengembangkan pemikiran2 SOCRATES, Dia juga membangun pemikirannya sendiri sebagai filosuf. Lahir dari keluarga bagsawan Athena thn 427/428 SM dan meninggal thn 348 SM. HIdupnya cukup ironis pernah jadi penasehat raja, namun pernah juga dijual sebagai budak, tp dibebaskan temannya dan ketika mau mengganti uang pembebasannya temannya tak terima, kemudian uang itu digunakan untuk mendirikan Sekolah AKADEMIA, sebagai tempat mengasah fikiran para muridnya..BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 16....(PLATO)...dia menulis cukup banyak karya buku termasuk yg dalam bentuk surat-surat, 9 buku termasuk dalam kategori tetralogi 10 buku tentang Negara,namun ada 6 buku dianggap tidak otentik (kontroversial, diragukan dari PLATO). Meskipun demikian pemikiranNYA tetap dapat diketahui. Buku-bukuNYA banyak ditulis dalam bentuk dialog (percakapan, diskusi) dg menempatkan SOCRATES sebagai interlocutor (teman bercakap, teman diskusi) bijak sehingga mengalir ide pemikiran yg memberi keyakinan akan kebenarannya ... BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 17... (PLATO). PandanganNYA: terdapat dua dunia pertama: dunia ide (eidos, bentuk), realitas objektif yg sesungguhnya, berdiri sendiri bebas dari subyek yg berfikir, tidak berubah, bersifat tunggal dan hanya bisa dikenali dg rasio. Kedua: dunia material/fisikal yang terus berubah, bersifat jamak dan pengenalannya melalui panca indra. Ini merupakan fikiran yg memadukan pendapat PERMENIDES, segala sesuatu bersifat tetap, dengan pendapat HERAKLEITOS, segala sesuatu terus berubah. Untuk dunia ide, PLATO menjelaskannya dengan analogi kisah Manusia dalam Goa...BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 18....(PLATO). Manusia ibarat tahanan  terkerangkeng dlm goa menghadap dinding, dibelakangnya ada nyala api, para budak berkegiatan ditengahnya. Para tawanan melihat bayangan yg dianganggap realitas, ketika ada yg lepas akan disadari bahwa itu bukan realitas terlebih setelah keluar gua melihat cahaya matahari. Ketika kembali ke goa dan cerita, tak ada yg percaya, tetap menganggap bayangan sebagai realitas. Nah dunia luar goa dg cahayanya merupakan realitas sebenarnya, ide yg benar, baik dan obyektif, hanya dpt dikenali rasio, bayangan hanya representasi tak sempurna dari realitas...BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 19...(PLATO). Masalah ide merupakan fondasi ajaran PLATO dg makna sesuatu realitas di luar fikiran dan bersifat obyektif (bukan gagasan yg ada dalam fikiran dan bersifat subyektif). Ide tidak diciptakan, tidak tergantung pd pemikiran kita, namun pemikiranlah yg tergantung pd ide. Berfikir, pemikiran adalah menaruh perhatian pada ide-ide. Segitiga dipapan tulis merupakan representasi ide segitiga obyektif dan bisa direpresentasikan juga oleh segitiga di kertas, di tembok dsb. Ide bagus bisa direpresentasikan dg kain bagus, mobil bagus dsb, itu terjadi karena ada realitas bagus yg obyektif....BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 20...(PLATO). Dunia ide berhubungan dg dunia fisik/materi, namun ide tidak dipengaruhi olehnya. Terdapat tigacara hubungan antara keduanya: 1) ide hadir dalam benda konkrit, tp ide tak terkurangi olehnya, gambar segitiga bisa dihapus namun tak mengurangi ide segitig; 2) benda konkrit berpartisipasi dlm satu atau beberapa ide, orang jujur berpartisipasi dlm ide orang dan ide jujur; 3) ide sebagai model/ paradiegma bagi benda konkrit. Dan benda konkrit merupakan represen-tasi tak sempurna dari ide, hanya menyerupai model saja... BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 21....(PLATO). Terdapatnya dua dunia berimplikasi pada dua jenis pengenalan yg bisa diperoleh manusia yaitu: 1) Pengenalan ide-ide (yg bersifat jelas, tak berubah) melalui rasio (disebut episteme, pengetahuan), menghasilkan kepastian dan memungkinkan kebenaran mutlak; 2) Pengenalan benda-benda, fisik, materi (yg bersifat selalu berubah) melalui panca indra (disebut doxa, pendapat, opini), kebenaran relatif, tidak menghasilan kepastian....BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 22....(PLATO). Dunia ide dan dunia fisik tergambar dlm diri manusia (dualisme) dimana badan itu dunia fisik selalu berubah dan jiwa sebagai dunia ide yg telah mengenalinya sebelum bersatu dg badan. Badan adala belenggu jiwa dan untuk mengenali lagi dunia ide, manusia perlu melepaskan (mengurangi) ketergantungannya pada dunia fisik/materi/badan, sehingga dg fungsi rasionalnya, jiwa dpt mengarah pd dunia ide dan bersifat bijaksana yg mampu menjaga hidup manusia. Fungsi jiwa lainnya kehendak/keberanian, sifat kegagahan, serta fungsi ketiga yaitu keinginan/nafsu yg perlu pengendalian....BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 23...(PLATO). Melepaskan jiwa dari badan dicapai dg pengetahuan, fungsi rasional jiwa yg mengingat kembali ide-ide, ini perlu upaya keras sebab  kuatnya tarikan dunia fisik/badan/materi, hingga sulit naik ke dunia ide. Sedikit yg mampu menjalaninya dg kurangnya dukungan masyarakat akan pentingnya  pengetahuan kebenaran dan kebijakan. Ibaratnya delman dg kusirnya (fungsi rasional jiwa) yg ditarik oleh dua kuda yg satu kuda kebenaran yg ingin terbang ke dunia ide dan yg satu kuda napsu/kehendak yg ingin ke dan tetap dibawah, tarik menarik, dan nafsu yg menang sehinga dipenjarakanlah jiwa dalam badan....BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 24....(PLATO). Namun demikian keterpenjaraan jiwa dapat terus dringankan  dg pengenalan kembali pada dunia ide yg puncaknya adalah ide yg baik yg menyinari ide ide lainnya dlm hirarkinya. Dan kematian akan menjadi pembebas yg menghancurkan belenggu penjara (terbebas dari hidup di dalam goa), dimana jiwa akan tetap abadi dengan dunia ide yg telah dikenalnya pd pra hidup (pra exostensi) manusia. Dari sini PLATO percaya akan adanya hidup dan kehidupan sesudah mati dg jiwa yg kembali pd dunia ide dimana ide yg baik (Tuhan) sebagai realitas yg sebenarnya, tetap tidak berubah dan abadi....BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 25....(PLATO). Itu bermakna bahwa hidup manusia yg baik adalah hidup yang dikendalikan jiwa yg baik dg akal sebagai penjaga dan penuntun untuk mengenal ide-ide menuju ide yg baik yg menyinari seluruh ide-ide dlm dunia ide yg kekal. Orang baik dikuasai akal budi, mampu menguasai diri sendiri dalam kesatuan. Orang yg dikuasai keinginan dan nafsu akan terombang ambing oleh kekuasaan diluar diri, tidak teratur, kacau, karena menjadi obyek dorongan irasional diluar diri (Taylor, 1989). Hidup yg baik didasarkan  perhatian pd realitas yg sebenarnya, berhijrah dari yg badani ke jiwani, dari indrawi ke ruhani, dan dari materi ke ide yg abadi...BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 26.... (PLATO). Bila hidup manusia terarah pada alam ide, manusia akan ikut dalam keterarahan alam ide, dan alam ide itu sendiri akan terarah pada ide tertinggi yaitu IDE YANG BAIK sebagai dasar segalanya. Segalanya menuju padanya dan tertarik olehnya (Suseno, F.M). Manusia yg baik yg mampu mencapai puncak eksistensinya adalah manusia yg terarah pada ide yang baik (Tuhan). Untuk sampai kesana CINTA menjadi kekuatan, karena YANG BAIK adalah yg paling dicintai dan dirindu oleh dunia ide, dan dalam kesanggupan memandang yang BAIK maka CINTA dan KEBAIKAN menyatu....BERSAMBUNG..
SAMBUNGAN 27....(PLATO). Tujuan hidup manusia  adalah kebahagiaan (eudaimonia) yakni hidup dengan mengenal dunia ide dan mengarah pada  yg baik, namun itu harus terjadi dalam polis/masarakat/negara bukan secara asketis. Oleh karena itu DIA juga mengemukakan fikirannya tentang negara. Manusia-manusia yg baik akan menjadikan Negara  baik, untuk itu setiap kelompok harus mengisi posisinya dlm negara sesuai dg ciri kemampuannya. Negara ideal terdiri dari tiga golongan yaitu Filosuf yg ngurus negara, Prajurit yg membantu negara, dan petani/tukang/Pegawai sbg penyokong negara. ..... BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 28...(PLATO). Negara/Pemerintah yg baik dihuni oleh orang-orang yg baik. Negara harus memperhatikan, mengutamakan keselamat warganya bukan orang2 yg memerintah. Orang yg memerintah harus mempersembahkan hidupnya bagi pemerintahan dg mengorbankan kepentingan diri sendiri. Negara perlu mendidik warganya dengan baik ke arah yg baik dan bukan semata soal akal, tapi harus memberi bimbingan kepada perasaan2 yg dapat mengarahkan diri pada akal, mampu mengendalikan nafsu. Negara harus baik, mendidik warganya menjadi baik dan warga yg baik inilah yg dpt menjadikan Negara baik....BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 29...(PLATO). Dalam hal pelaksanaan pendidikan, PLATO berpendapat bahwa pendidikab  anak 10 tahun ke atas menjadi kewajiban/urusan Negara, pd masa ini olah raga dan musik menjadi materi utamanya ditambah membaca menulis dan berhitung, untuk membuat badan dan fikiran sehat, dan menumbuhkan keberanian untuk mampu menjadi penjaga negara. Usia 14-16 diajarkan musik, puisi/bersajak, dan mengarang, untuk menanamkan kehalusan perasaan, budi yg halus, harmoni dan irama, dan ini penting untuk menghidupkan rasa keadilan...BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 30...(PLATO). Usia 16-18 diberi pelajaran Matematika untuk mendidik, melatih cara berfikir, agama dan etika sopan santun untuk menumbuhkan persatuan. Pada usia 18-20 tahun mendapat didikan militer, kemudian seleksi 1 untuk dpt pendididikan keilmuan lebih mendalam. Setelah 10 tahun seleksi 2, yg gagal jadi pegawai negara, yg lulus meneruskan 5 th belajar tentang wujud, ide, dan dialektika, setelah lulus dpt menjabat lebih tinggi, sesudah 15 th bekerja (50 th) dpt diterima masuk dlm lingkungan pemerintahan atau filosuf, karena dipandang mampu menyelenggarakan pemerintahan yg adil dg dasar ide yg Baik... BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 31...(PLATO). Semua pemikiran Plato terdapat dalam bentuk tulisan, meskipun ada juga yg secara lisan disampaikan dlm kuliahnya di AKADEMIA, Sekolah/PT/Universiras yg didirikannya dg biaya pembebasan Budak (PLATO pd saat itu). ini berarti Universitas/PT pertama berdiri sebagai efek perbudakan. PLATO mengajar selama 40 th sejak usianya 40 th dan meninggal di usia 80 th, setengah kehidupannya diabdikan untuk mengajar murid-murid, mengembangkan fikirannya dan ide yg baik sebagai realitas mutlak (TUHAN) menjadi dasar pemikirannya dlm berbagai aspek kehidupan manusia baik individu yg baik,masyarakat yg baik maupun politik dan negara yg baik..BERSAMBUNG.
SAMBUNGAN 32...(PLATO). Setelah PLATO meninggal, AKADEMIA terus berjalan berganti ganti pemimpin selama hampir 800 tahun, baru pada 529 M kaisar Yustinianus menutup seluruh sekolah filsafat di Athena termasuk AKADEMIA. Dari Sekolah ini lahir Filosuf-filosuf besar, dan Aristoteles yg belajar dg Plato selama 20 tahun merupakan muridnya yg dipandang terbesar sebagai filosuf dengan pengaruh kuat pada perkembangan berfikir dan filsafat kemudian.

Sabtu, 07 Juni 2014

TentanG SekolaH


MODEL SEKOLAH : BEBERAPA EKSPERIMEN

Upaya untuk memperbaiki terus menerus proses pendidikan di sekolah serta meningkatkan kinerja organisasi sekolah telah banyak dilakukan oleh masyarakat yang konsern terhadap pendidikan persekolahan, dari mulai yang bersifat pemberdayaan organisasi sampai dengan pengembangan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah serta yang mengingin mengubah cara dan proses pendidikan di sekolah. Berikut ini akan dikemukakan model-model sekolah yang dikembangkan menurut Pemahaman A.S. Neill (Omi Intan Naomi, 1999) dan beberapa model pendekatan untuk mencapai sekolah berkinerja tinggi (Priscilla Wohlstetter dan Roxane Smyer dalam Susan Albers Mohrman, 1994).Model yang dikemukakan Neill merupakan model eksperimen sekolah yang juga sekaligus mengkritik proses pendidikan di sekolah dan atau kelembagaan sekolah yang ada, sedangkan model sekolah berkinerja tinggi lebih menekankan pada perbaikan manajemen penyelenggaraan dan komponen-komponennya agar sekolah bisa lebih baik serta memperhatikan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat, seperti keterlibatan orang tua serta perhatiannya pada kelompok orang-orang yang tidak beruntung. Semua itu pada dasarnya merupakan upaya untuk menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan yang perlu dalam masyarakat manusia, serta menjadikan pendidikan berkontribusi signifikan bagi tumbuh kembangnya kehidupan manusia yang lebih manusiawi dan beradab, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat besar dari pendidikan persekolahan.
1.      Summerhill.
Model sekolah ini didirikan oleh A.S Neill pada tahun 1921. Berawal dari sekolah eksperimental yang mendemonstrasikan bagaimana demokrasi berjalan. Dalam sekolah model ini anak-anak bebas menjadi dirinya sendiri, dan untuk mencapainya dibuanglah semua disiplin, semua pengarahan, semua sugesti, semua pelatihan moral, semua pelajaran agama. Menurut pendirinya, semua anak punya watak bijaksana dan realistis, kalau dibiarkan tanpa campur tangan apapun dari orang dewasa, ia akan berkembang sejauh potensinya memungkinkan. Di sekolah anak-anak memilih pelajaran, kalau anak mau belajar, maka belajarlah dia, dan kalau tidak, anak juga dipersilahkan. Kalau perlu, anak bebas tak ikut belajar selama apapunkalau memang itu kemauannya. Di sekolah terdapat penjadwalan waktu namun itu hanya berlaku buat guru (Omi Intan Naomi, 1999).
Sekolah model ini nampaknya memberikan kebebasan yang cenderung mutlak pada siswa, mereka mempelajari apa yang mereka sukai jika memang mau belajar, tak ada satupun ketentuan tentang kehadiran, sehingga cenderung anarkis semaunya sendiri, namun demikian proses pendidikan bersifat alami dan guru hanya memberi fasilitasi untuk anak belajar tanpa suatu keharusan untuk memaksa siswa belajar. Meskipun demikian menurut pendirinya, di sekolah ini seorang anak tidak dibolehkan melakukan segala hal yang ia/siswa inginkan, karena hukum-hukum sosial akan mengaturnya, seorang anak hanya diperbolehkan berbuat sesuka hati dalam hal-hal yang mempengaruhinya. Dengan demikian sekolah model ini pada dasarnya juga merupakan kritik akan penyelenggaraan sekolah yang ada pada saat itu, hal ini terlihat dari pernyataan A.S. Neill (Omi Intan Naomi, 1999) bahwa sekolah yang menyuruh anak-anak duduk tenang di bangku, mempelajari bidang-bidang studi yang paling tak berguna adalah sekolah yang buruk. Ia hanya baik bagi orang-orang yang percaya pada sekolah semacam itu, hanya baik bagi warganegara yang tidak kreatif, yang ingin anak-anaknya patuh membungkuk-bungkuk, supaya cocok masuk peradaban, yang tolok ukur kesuksesannya adalah uang.
2.      The School development program
Program pengembangan sekolah merupakan model pembuatan keputusan berbasis sekolah yang dikembangkan oleh psikiater James Comer sebagai upaya bersama antaraPusat Pengembangan anak Universitas Yale dengan Sekolah publik New Heaven. Model sekolah ini dimulai tahun 1964 di New Heaven dengan perkembangan yang cukub baik dalam kinerja siswanya. Program pengembangan sekolah berupaya untuk memperbaiki komunikasi antara sekolah dengan rumah, karena keterlibatan orang tua menjadi hal yang esensial bagi kinerja siswa yang tinggi, dan pada awalnya model sekolah ini merupakan program untuk meningkatkan  pendidikan siswa-siswa miskin, meskipun Comer (1986) berpendapat bahwa model ini dapat mermanfaat dan bernilai bagi siswa-siswa kelas menengah dan tinggi.
Model pengelolaan dalam sekolah ini bersifat partisipatif dimana tanggung jawab dan pembuatan keputusan sifatnya berbagi antara orang tua dengan staf. Sekolah model ini memerlukan tiga struktur atau tiga team dibangun di sekolah yaitu:
·         Tim manajemen dan perencanaan sekolah, yang tanggung jawab utamanya adalah mengembangkan rencana perbaikan sekolah dengan input dari seluruh komunitas sekolah
·         Tim kesehatan mental, yang bekerja untuk mencegah masalah-masalah prilaku dan untuk menciptakan lingkungan teratur, saling menghormati, dan lingkungan yang mendorong pada kesuksesan
·         Tim program orang tua, yang bekerja untuk melibatkan orang tua agar aktif di sekolah.
Ketiga team tersebut bekerja sama untuk meningkatkan komunitas berbasis sekolah yang fokus pada perbaikan berkelanjutan, serta amat diperlukan untuk memperbaiki prilaku siswa serta kinerja akademisnya dan menarik orang tua lebih dalam pada proses pendidikan.
3.      Sekolah Akselerasi
Sekolah akselerasi dipelopori oleh Henry Levin (1987) dari Universitas Harvard, dalam sekolah model ini setiap siswa berpartisipasi dalam suatu kurikulum yang menantang yang biasa digunakan untuk anak-anak cerdas (gifted), sekolah disorong untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan keterampilan membaca dan menulis. Terdapat dua prinsip penting yang diterapkan dalam sekolah model ini yaitu:
·         Pemberdayaan harus dibarengi dengan tanggung jawab, staf sekolah mampu membuat perubahan dan bertanggung jawab atas hasilnya
·         Sekolah harus mendasarkan perbaikan pada kekuatan yang ada yang dimiliki guru dan siswa dalam pembelajaran di kelas.
Terdapat dua proses perubahan dalam sekolah akselerasi yaitu pertama : Big wheels yang merupakan perubahan utama yang merubah praktek dan budaya sekolah yang umumnya menunjukan pembuatan keputusan kelompok yang melibatkan sekolah secara keseluruhan, dan kedua Little Wheels yang merupakan praktek perubahan kecil yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang fokus pada proyek, inovasi informal, serta eksperimen-eksperimen kreatif. Perubahan kecil ini amat penting dalam mendukung kesuksesan sekolah model ini karena memungkinkan tindakan cepat, serta setiap orang bisa melakukannya, dan jika berhasil akan berpengaruh pada perubahan besar (big wheels).Dengan demikian Big wheels merupakan perubahan utama yang cenderung lambat dalam mencapai tujuan, sedangkan little wheels merupakan kegiatan sehari hari yang memberi kontribusi bagi perubahan besar.
4.      Essential School
Sekolah esensial dipelopori oleh Theodore Sizer (1992) dari Universitas Brown, Model sekolah ini  menawarkan prinsip prinsip untuk memandu perubahan di sekolah yang terdiri dari 8 prinsip yaitu:
·         Fokus intelektual diarahkan untuk membantu siswa menggunakan cara berfikirnya dengan baik
·         Tujuan sederhana terkait dengan siswa dalam menguasai sejumlah keterampilan dan pengetahuan
·         Tujuan universal bagi seluruh siswa di sekolah
·         Personalisasi melalui pengurangan jumlah siswa yang diajar oleh guru
·         Memandang siswa sebagai pekerja ketimbang penerima informasi yang pasif
·         Eksibisi/perlombaan siswa yang menunjukan penguasaan pengetahuan dan ketrampilan
·         Sikap yang menekankan pada kepercayaan dan moral etika
·         Staf yang generalis dulu baru kemudian spesialis
·         Anggaran yang tidak melebihi pembelanjaan sekolah tradisional.
Dalam sekolah esensial siswa dibagi dalam kelompok kecil yang disebut houses dan team pengajar bertanggung jawab atas hasil dan proses pembelajaran siswa di masing masing House. Seluruh pemangku kepentingan sekolah bertanggung jawab atas tujuan yang ingin dicapai dan tujuan harus bersifat sederhana dan fokus agar ketercapaiannya mudah diketahui.
5.      Effective School
Gerakan sekolah efektif dimulai akhur tahun tujuh pulahan dan awal tahun delapan puluh berdasarkan studi Ronald Edmond (1979, 1982) dari Universitas Harvard. Sekolah efektif berpusat pada keyakinan bahwa semua siswa dapat berprestasi, dan sekolah menjadi penentu bagi semua itu, dalam Sekolah efektif prestasi siswa tidak bervariasi karena latar belakang status sosial ekonominya, sekolah efektif memiliki karakteristik sebagai berikut
·         Kepemimpinan Kepala sekolah yang kuat
·         Ekspektasi yang tinggi atas kinerja siswa,
·         Penekanan pada ketrampilan dasar
·         Atmospir yang teratur dan terkontrol
·         Pengetesan yang sering untuk melihat kinerja siswa.
Sekolah efektif adalah sekolah dimana kepemimpinan kepala sekolahnya kuat, dalam melaksanakan otoritas sebagai pemimpin dengan mengidentifikasi berbagai kebutuha yang terkait dengan peningkatan kinerja siswa, berkomunikasi dengan baik dan efektif dengan guru, staf serta masyarakat dalam melaksanakan kepemimpinan instruksional  serta prhatian yang  besar pada prestasi siswa melalui komunikasi yang baik dan efektif dengan mereka guna menumbuhkan harapan yang tinggi akan kinerja siswa, yang juga menekankan pada penguasaan ketrampilan dasar para siswa serta terus menerus memotivasi guru dan siswa untuk berkinerja lebih baik dan berprestasi lebih baik dan bermutu.
Dalam sekolah-sekolah model ini, atmospir atau iklim organisasi sekolah cenderung sama satu sama lain. Staf sekolah bekerja profesional serta fokus dalam melayani siswa dan siswa juga faham apa yang diharapkan sekolah padanya, dan sekolah memantau kemajuan para siswa guna meningkatkan belajar siswa. Disamping itu sekolah efektif juga memiliki hubungan positif dengan masyarakat guna menghindari keterasingan antara sekolah dan masyarakat agar prestasi siswa dapat meningkat melalui keterlibatan masyarakat dalam membangun sekolah. Disamping itu dalamaspek perencaan sekolah efektif melibatkan berbagai pemangku kepentingan sehingga bersifat kolaboratif (collaborative planning).

Kamis, 22 Mei 2014

Sekolah Dikritik

BEBERAPA KRITIK TERHADAP PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN
  • John holt (1969), School is bad for children
Hampir semua anak pada saat pertama masuk sekolah  adalah lebih pandai, lebih ingin tahu, sedikit takut akan apa yang tak diketahuinya, lebih baik dalam menggali sesuatu, lebih percaya diri, penuh inisiatif, tangguh menghadapi masalah dan bersikap bebas ketimbang apa yang akan didapatkan di sekolahSekolah telah membuat anak-anak yang cerdas menjadi tidak dengan memaksakan berbagai pelajaran yang harus dipelajari oleh mereka, demikian John Holt menulis dalam sebuah surat kabar Saturday evening Post tahun 1969. Ini bukan kritik pertama pada sekolah, namun terbukanya kritik tersebut ke publik merupakan tamparan penting bagi alasan keberadaan sekolah yang dipandang bukan menjadikan anak makin baik, bebas dan makin cerdas.
Di sekolah  belajar dipisahkan dari kehidupan, sejak lahir setiap anak belajar melalui pengalamannya dengan cara sederhana dan alami, sementara disekolah mereka diajari hal-hal yang abstrak, konseptual, sehingga mendorong pada keyakinan bahwa belajar hanya bisa di sekolah dan bukan ditempat lain, seorang anak pergi kesekolah untuk belajar, dan diluar itu nampak sebagai bukan belajar. Kondisi ini berakibat pada tumbuhnya pemahaman bahwa belajar bersifat pasif, dimana anak-anak sebagai objek dan sekolah merupakan lembaga yang punya otoritas tinggi untuk menentukan apakan belajar telah terjadi atau belum. Belajar menjadi sesuatu yang orang lain lakukan untuk anak, bukan sebagai bagian dari pengalaman anak itu sendiri untukbelajar bagi dirinya. Dengan demikian maka Sekolah merupakan tempat yang buruk bagi anak-anak (manusia).
Pada tahun 1977, Holt menerbitkan Bulletin dengan tema Growing  Without School (GWS), Dan cukup mendapat sambutan. Intinya adalah bahwa anak perlu bertumbuh tanpa harus sekolah. Menurut Griffith (1998) ide holt ini pada awalnya merujuk pada mengeluarkan anak dari sekolah, namun dalam perkembangannya menjadi sinonim dengan dengan sekolah di rumah (home schooling), sehingga istilah GWS menjadi makin menyempin maknanya sebagai gaya jhusus sekolah di rumah berdasarkan pembelajaran yang terpusat pada siswa.
  • Everett Reimer, School is Dead (1969)
Sekolah telah menjadi gereja universal dari masyarakat industriyang memasukkan dan mentransmisikan ideologinya, dan membentik fikiran manusia untuk menerimanya serta menjadikan status sosial sesuai dengan penerimaannya. Sistem sekolah telah menjadi mekanisme  untuk mendistribusikan nilai menggantikan keluarga dan gereja serta lembaga pemilikan lainnya, sementara dalam masyarakat kapitalis lebih tepat dinyatakan bahwa sekolah  telah mengkonfirmasi  fungsi penyebaran nilai dari institusi-institusi lama tersebut. Kesuksesan dan kegagalan seseorang telah dikaitkan dengan sekolah, padahal kenyataannya menunjukan bahwa sekolah telah mempertahankan kelompok elit dengan merampas masa dalam potensi kepemimpinannya.
  • Paulo Freire,  Pedagogy of the Oppressed
Freire  adalah tokoh pendidikan dari Brazil yang sangat kritis pada proses pendidikan di persekolahan, meskipun tidak mengarah pada pembubaran sekolah namun kritiknya terhadap proses pendidikan dapat membuat lembaga sekolah menjada ancaman bagi berkembangnya hidup dan kehidupan masyarakat yang merdeka.  Pendidikan harus merupakan usaha menyadarkan individu untuk belajar menggali pertumbuhan dirinya melalui situasi sehari-hari yang dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Pendidikan bukan untuk menindas tapi pendidikan harus membebaskan manusia menujuju sifat egaliter. Pembelajaran harus jangan mereproduksi kata-kata yang sudah ada, tapi memerlukan upaya kreatif individu mengemukakan kata-katanya sendiri yang memungkinkan mereka sadar akan realitas sehingga mampu berjuang untuk kebebasannya.
Dengan pandangan tentang pendidikan dan metodenya, Paulo Freire sering dipandang sebagai pelopor pemikir pedagogi kritis (critical pedagogy) sebagai pendekatan pembelajaran yang berupaya membantu murid mempertanyakan dan menantang dominasi serta keyakinan dan praktek-praktek yang mendominasi (wikipedia) .Dalam karya tulisnya (bukunya antara lain : Education as the practice of liberation, Pedagogy oh the oppressed, pedagogy of the heart, The Politic of Education, Culture, Power, and Liberation) menjelaskan/mengelaborasi bagaimana pendidikan harus dilaksanakan dalam upaya membebaskan manusia dari situasi sosial dan pendidikan yang menekan, mendominasi dan menjadikan manusia harus menerima apa adanya dalam situasi sosial yang ada tanpa menyadari dan mengkritisi situasi tersebut.Pedagogi kritis mempunyai akar/dimensi ideologi politik dalam konteks perjuangan sosial/tranformasi kondisi sosial politik dari kekuasaan yang opresif untuk mencapai tatanan sosial politik yang adil dan egaliter, dimensi filosofis berkaitan dengan makna dan tujuan pendidikan terkait dengan pendidikan sebagai praktek pembebasan dan dimensi praktis pemberdayaan manusia/individu/peserta didik melalui konsep Conscientization (pewujudan kesadaran kritis/the coming to critical consciousness). konsentisasi akan membawa pada pendidikan yang membebaskan yang berfokus pada pengembangan kesadaran kritis melalui pemahaman hubungan antara masalah individu dan pengalaman dengan konteks sosial dimana individu itu berada, untuk itu langkah praxis penting untuk dilakukan sebagai pendekatan reflektif atas tindakan  yang melibatkan siklus teori, aplikasi, evaluasi, refleksi dan kemudian kembali lagi pada teori. Siklus tersebut akan mendorong kesadaran kritis manusia akan diridan lingkungannya.
Dalam tataran praktek pendidikan/pembelajaran terdapat beberapa konsep penting yang menjadi bagian dari pedagogi kritis antara lain Constructivisme, Banking concept of edecation, Problem posing education, Dialogical method. Meskipun Konsep-konsep tersebut terkait dengan seluruh dimensi dari pedagogi kritis, namun dalam implementasinya dapat terjadi meskipun mengacu pada kepentingan praktis pragmatis tanpa mengaitkannya dengan dimensi ideologi politis, sehingga pelaksanaan tersebut dapat dipandang sebagai bagian yang menyerap pedagogi kritis, baik karena kesadaran ideologis, maupun kesadaran akan pentingnya hal tersebut dalam meningkatkan mutu pendidikan guna mampu dalam menghadapi tantangan perubahan yang cepat.
Kritikan terhadap sekolah yang cukup keras dan mendapatkan perhatian publik adalah yang dikemukakan oleh Illich yang mendambakan masyarakat tanpa sekolah, meski bukan tanpa pendidikan sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Illich memandang bahwa sekolah telah melembagakan msyarakat serta menjadi organ yang mereproduksi masyarakat konsumen, sekolah telah memonopoli belajar sehingga pendidikan universal melalui sekolah merupakan hal yang tidak mungkin meskipun dengan merubah kelembagaan alternatif sepanjang menerapkan gaya kelembagaan sekolah yang ada sekarang.
Illich berpendapat bahwa formalisasi pendidikan sekolah telah mengakibatkan terjadinya monopoli dala arus informasi/pendidikan, sehingga mencegahnya akan berdampak baik bagi masyarakat karena akan terwujud kondisi egaliter terhadap pengetahuan, ini disebabkan sekolah-sekolah didasarkan pada hipotesis palsu, bahwa pengetahuan adalah hasil pengajaran berdasarkan kurikulum. Lebih jauh Illich berpendapat bahwa sesungguhnya elajar itu adalah kegiatan manusiawi yang paling tidak memerlukan manipulasi oleh orang lain. Sebagian besar pengetahuan bukanlah hasil pengajaran, tetapi lebih merupalam hasil partisipasi bebas dalam masalah-masalah yang penuh arti (1971:56)
Perlunya membebaskan masyarakat dari sekolah karena ketidak mungkinan sekolah dapat mencapai tujuan pendidikan yang menurut Illich (Deschooling Society,1971/Wikipedia,) terdapat tiga tujuan sistem pendidikan yang baik yaitu:
  • it should provide all who want to learn with access to available resources at any time in their lives; (hendaknya menyediakan pada seluruh yang mau belajar akses sumberdaya yang tersedia kapan saja sepanjang hayat)
  • empower all who want to share what they know to find those who want to learn it from them; (memberdayakan semua yang ingin berbagi apa yang diketahuinya untuk menemukan mereka yang ingin belajar darinya),
  • finally, furnish all who want to present an issue to the public with the opportunity to make their challenge known (melengkapi semua yang ingin menyampaikan sebuah isu pa publik dengan kesempatan guna membuat tantangan/fikiran mereka diketahui)[3]
Illich berpendapat bahwa untuk mewujudkan semua tujuan tersebut, penggunaan teknologi dapat membantu melalui learning web (opportunity web) — meskipun bukan dalam konteks melengkapi proses dalam kelembagaan yang ada seperti dikatakan Drucker (1993) tentang pentingnya penguasaan teknologi pembelajaran sebagai satu prasyarat bagi keberhasilan kultural dan nasional — agar pendidikan dan pembelajaran menjadi milik semua dan untuk semua manusia. akses pada sumberdaya pendidikan pada semua orang sepanjang hidupnya merupakan perwujudan bahwa pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pendidikan, sekolah perlu menjadikan ide tujuannya menjadi bagian dari masyarakat dan masyarakat menjadi bagian yang dapat secara terbuka dalam ruang dan waktu untuk mengakses persekolahan. Batasan usia untuk bersekolah perlu dipandang sebagai penerapan sisi psikologis pendidikan dn pembelajaran namun perlu dipertimbangkan jangan sampai hal itu menghambat manusia yang ingin mendewasakan dirinya dengan belajar, ini memang akan memerlukan reformasi yang cukup radikal dalam konteks hubungan sekolah dan masyarakat, namun semua sekolah sebenarnya berada di dalam masyarakat, oleh masyarakat, untuk kehidupan dan bagi manusia, sehingga apapun yang membawa kebaikan bagi semua itu harus menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan sekolah.
Kondisi demikian akan mendorong pada pemberdayaan siapapun untuk berbagi apa yang diketahuinya pada siapapun yang memerlukannya, sehingga pendidikan dapat benar benar menjadi suatu masyarakat yang mengintegrasikan manusia menuju pengembangan dan kemajuan mutu hidup dan kehidupan masyarakat, yang berimplikasi pada terbukanya isu-isu yang kreatif dan menantang pada masyarakat sehingga makin dewasalah masyarakat karena sekolah yang menjadi bagian pendewasaan itu. Memang ini kedengarannya absurd, namun ini adalah harapan dan tujuan yang perlu diperhatikan dan diformulasikan dalam tataran institusi pendidikan sekolah, sehingga sekolah tidak menjadi jembatan rapuh ataupun jembatan yang hanya mengantar pada suatu pulau sendirian tanpa makna relasi, tanpa makna interaksi, dan tanpa menghidupkan hidup dan kehidupan masyarakat sebagai ibu kandung dan anak kandung sekaligus.
  • Neil Postman,The End of Education  (1995)
Tanpa sebuah tujuan yang transenden dan mulia maka pendidikan di sekolah pasti akan mencapai masa berakhirnya, dan semakin cepat kita melakukan dengan disertai transendensi dan tujuan yang mulia, akan lebih baik. Dengan tujuan semacam itu pendidikan akan menjadi sentral. Melalui lembaga inilah kaum muda kita akan menjumpai alasan-alasan untuk melanjutkan pendidikan bagi diri mereka sendiri. Dengan pernyataan demikian Postman sebenarnya ingin mengkritisi apa yang terjadi di sekolah dewasa ini, dimana tujuan pendidikan di sekolah amat pragmatis dan ekonomis, tanpa suatu dasar transenden yang dapat mendorong dengan kuat bagi alasan keberadaan sekolah, dan orang-orang untuk bersekolah. Dengan begitu diperlukan kaji ulang tujuan pendidikan sekolah yang dapat memberi nilai hidup dari tujuannya.Sekolah-sekolah dewasa ini dalam melaksanakan proses pendidikannya cenderung lebih bekutat pada masalah teknis terkait dengan cara dan kurang mempermasalahkan hal metafisik khususnya terkait dengan tujuan yang akan merupakan landasan kuat bagi seseorang untuk mengikuti pendidikan sekolah, dan tujuan yang kuat haruslah bersifat transenden dan spiritual sebagai alasan yang jelas bagi seseorang untuk belajar di sekolah.
Postman mengkritisi sekolah terkait dengan strategi dan manajemen organisasi sekolah yang cenderung kurang memikirkan masalah metafisik, dengan tetap percaya bahwa kelembagaan sekolah tetap diperlukan, karena sekolah akan berlangsung terus sebab tidak ada seorangpun yang bisa membuat cara yang lebih baik dalam mengenalkan para kaum muda kita terhadap dunia belajar selain sekolah. Sekolah umum akan terus berlangsung karena tidak ada seorangpun yang bisa membuat cara yang lebih baik dalam menciptakan ruang publik selain sekolah. Jadi intinya perlu perbaikan dalam tujuan pendidikan sekolah, dan buka untuk menghapuskan sekolah, karena lembaga pendidikan ini masih tetap diperlukan masyarakat dalam membangun ruang publik untuk belajar.
  • Hyman dan Snook,  Dangerous Scholl  (1999)
Sekolah telah menjadi tempat yang berbahaya bagi para siswa karena berbagai praktek yang cenderung mengabaikan prinsip pendidikan dalam menangani para siswa. Sekolah telah makin meningkat dalam mengadopsi penegakan hukum ketimbang model-model pendidikan dalam mengurangi kekerasan. Dengan demikian sekolah telah melakukan penangan yang keliru (maltreatment) baik secara fisik (physical maltreatment) maupun secara psikologis (psychological maltreatment). Kekeliruan penanganan secara fisik terjadi melalui corporeal punishment yaitu penghukuman dengan mengaitkan aspek fisik di dalamnya, sementara kekeliruan aspek psikologis terjadi dalam hal-hal berikut:
  • Disiplin dan pengawasan  berdasarkan ketakutan dan intimidasi
  • Interaksi manusia yang rendah, karena guru kurang tertarik berkomunikasi, peduli serta sikap pada murid yang abai, terisolasi serta penolakan (tidak menerima apa adanya)
  • Kesempatan siswa yang terbatas untuk mengembangkan ketrampilan yang memadai serta perasaan berharga.
  • Mendorong ketergantungan dan kepatuhan buta, khususnya pada hal hal yang siswa mampu mandiri melakukannya
  • Teknik memotivasi  yang terlalu kritis, terlalu menuntut, tak masuk akal, dan mengabaikan usia dan kemampuan anak.
  • Menolak kemungkinan siswa untuk mengambil resiko yang sehat seperti mengeksplorasi ide yang tidak biasa dan tidak disetujui guru
  • Kekerasan verval seperti sarcasme, menyindir, merendahkan, dan merusak nama baik
  • Mengkambing hitamkan siswa serta mem-buly
  • Gagal mengintervensi ketika siswa diperolok, di buly, dan dikambing-hitamkan oleh teman-temannya.
Sekolah menjadi tempat yang membelenggu kebebasan, ekpresi terbuka serta berbagai kegiatan anak menjadi amat terkontrol dengan cara yang tidak atau kurang kondosif bagi berkembangnya pendidikan yang manusiawi dan menyenangkan, sehingga sekolah benar-benar menjadi tempat yang berbahaya bagi perkembangan manusia menjadi manusia yang manusiawi

Selasa, 20 Mei 2014

Pendidikan Non Formal


Pendidikan Nonformal


A. P E N D A H U L U A N
Kesulitan Dan tantangan dalam kehidupan manusia baik yang diakibatkan oleh lingkungan maupun alam yang kurang bersahabat, sering memaksa manusia untuk mencari cara yang memungkinkan mereka untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya. Masih banyaknya warga yang tidak melanjutkan pendidikan ke taraf yang memungkinkan mereka menggeluti profesi tertentu, menuntut upaya-upaya untuk membantu mereka dalam mewujudkan potensi yang dimilikinya agar dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa.
Sejauh ini, anggran yang berkaitan dengan pendidikan mereka masih terbatas, sehingga berbagai upaya untuk dapat terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun pendidikan terus dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar makin tumbuh kesadaran akan pentingnya pendidikan dan mendorong masyarakat untuk terus berpartisipasi aktif di dalamnya.
Bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi, pendidikan luar sekolah berusaha mencari jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan pendidikan keagamaan lainnya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indonesia merdeka, bertahan hidup sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam masyarakat. Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut karena tumbuh dan berkembang, dibiayai dan dikelola oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat merasakan adanya kebermaknaan dari program-program belajar yang disajikan bagi kehidupannya, karena pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat.
Dalam hubungan ini pendidikan termasuk pendidikan nonformal yang berbasis kepentingan masyarakat lainnya, perlu mencermati hal tersebut, agar keberadaannya dapat diterima dan dikembangkan sejalan dengan tuntutan masyarakat berkaitan dengan kepentingan hidup mereka dalam mengisi upaya pembangunan di masyarakatnya. Ini berarti bahwa pendidikan nonformal perlu menjadikan masyarakat sebagai sumber atau rujukan dalam penyelenggaaraan program pendidikannya.
Hasil kajian Tim reformasi pendidikan dalam konteks Otonomi daerah (Fasli Jalal, Dedi Supriadi. 2001) dapat disimpulkan bahwa apabila pendidikan luar sekolah (pendidikan nonformal) ingin melayani, dicintai, dan dicari masyarakat, maka mereka harus berani meniru apa yang baik dari apa yang tumbuh di masyarakat dan kemudian diperkaya dengan sentuhan-sentuhan yang sistematis dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Strategi itulah yang perlu terus dikembangkan dan dilaksanakan oleh pendidikan luar sekolah dalam membantu menyediakan pendidikan bagi masyarakat yang karena berbagai hal tidak terlayani oleh jalur formal/sekolah.
Bagi masyarakat yang tidak mampu, apa yang mereka pikirkan adalah bagaimana hidup hari ini, karena itu mereka belajar untuk kehidupan; mereka tidak mau belajar hanya untuk belajar, untuk itu masyarakat perlu didorong untuk mengembangkannya melalui Pendidikan nonformal berbasis masyarakat, yakni pendidikan nonformal dari, oleh dan untuk kepentingan masyarakat
B. PENDIDIKAN NONFORMAL BERBASIS MASYARAKAT
Pendidikan berbasis masyarakat (communihy-based education) merupakan mekanisme yang memberikan peluang bagi setiap orang untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pembelajaran seumur hidup. Kemunculan paradigma pendidikan berbasis masyarakat dipicu oleh arus besar modernisasi yang menghendaki terciptanya demokratisasi dalam segala dimensi kehidupan manusia, termasuk di bidang pendidikan. Mau tak mau pendidikan harus dikelola secara desentralisasi dengan memberikan tempat seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat.~
Sebagai implikasinya, pendidikan menjadi usaha kolaboratif yang melibatkan partisipasi masyarakat di dalamnva. Partisipasi pada konteks ini berupa kerja sama antara warga dengan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, menjaga dan mengembangkan aktivitas pendidikaan. Sebagai sebuah kerja sama, maka masvarakat diasumsi mempunyai aspirasi yang harus diakomodasi dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu program pendidikan.
1. Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengsi tantangan kehidupan yang berubah-ubah.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutullan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi Peluang dan kebebasan untuk merddesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
Di dalam Undang-undang no 20/2003 pasal 1 ayat 16, arti dari pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Dengan demikian nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat pada dasarnya merupakan suatu pendidikan yang memberikan kemandirian dan kebebasan pada masyarakat untuk menentukan bidang pendidikan yang sesuai dengan keinginan masyarakat itu sendiri.
Sementara itu dilingkungan akademik para akhli juga memberikan batasan pendidikan berbasis masyarakat. Menurut Michael W. Galbraith, community-based education could be defined as an educational process by which individuals (in this case adults) become more corrtpetent in their skills, attitudes, and concepts in an effort to live in and gain more control over local aspects of their communities through democratic participation. Artinya, pendidikan berbasis masvarakat dapat diartikan sebagai proses pendidikan di mana individu-individu atau orang dewasa menjadi lebih berkompeten dalam ketrampilan, sikap, dan konsep mereka dalam upaya untuk hidup dan mengontrol aspek-aspek lokal dari masyarakatnya melalui partisipasi demokratis. Pendapat lebih luas tentang pendidikan berbasis masyarakat dikemukakan oleh Mark K. Smith sebagai berikut:
… as a process designed to enrich the lives of individuals and groups by engaging with people living within a geographical area, or sharing a common interest, to develop voluntar-ily a range of learning, action, and reflection opportunities, determined by their personal, social, econornic and political need.”
Artinya adalah bahwa pendidikan berbasis masyarakat adalah sebuah proses yang didesain untuk memperkaya kehidupan individual dan kelompok dengan mengikutsertakan orang-orang dalam wilayah geografi, atau berbagi mengenai kepentingan umum, untuk mengembangkan dengan sukarela tempat pembelajaran, tindakan, dan kesempatan refleksi yang ditentukan oleh pribadi, sosial, ekonomi, dan kebutuhan politik mereka.
Dengan demikian, pendekatan pendidikan berbasis masyarakat adalah salah satu pendekatan yang menganggap masyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, melihat pendidikan sebagai proses dan menganggap masyarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan menjadi lebih balk. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah dibekali potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa, mereka telah memiliki potensi untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sumber daya vang mereka miliki serta dengan memobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.
Dalam UU sisdiknas no 20/2003 pasal 55 tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat disebutkan sebagai berikut :
1. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
2. Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanannya sesuai dengan standar nasional pendidikan.
3. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber-dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan-yang berlaku.
4. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
5. Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Dari kutipan di atas nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat dapat diselenggarakan dalam jalur formal maupun nonformal, serta dasar dari pendidikan berbasis masyarakat adalah kebutuhan dan kondisi masyarakat, serta masyarakat diberi kewenangan yang luas untuk mengelolanya. Oleh karena itu dalam menyelenggarakannya perlu memperhatikan tujuan yang sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat.
Untuk itu Tujuan dari pendidikan nonformal berbasis masyarakat dapat mengarah pada isu-isu masyarakat yang khusus seperti pelatihan karir, perhatian terhadap lingkungan, budaya dan sejarah etnis, kebijakan pemerintah, pendidikan politik dan kewarganegaraan, pendidikan keagamaan, pendidikan bertani, penanganan masalah kesehatan serti korban narkotika, HIV/Aids dan sejenisnya. Sementara itu lembaga yang memberikan pendidikan kemasyarakat bisa dari kalangan bisnis dan industri, lembaga-lembaga berbasis masyarakat, perhimpunan petani, organisi kesehatan, organisasi pelayanan kemanusiaan, organisi buruh, perpustakaan, museum, organisasi persaudaraan sosial, lembaga-lembaga keagamaan dan lain-lain .
2. Pendidikan Nonformal Berbasis Masyarakat
Model pendidikan berbasis masyarakat untuk konteks Indonesia kini semakin diakui keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Keberadaan lembaga ini diatur pada 26 ayat 1 s/d 7. jalur yang digunakan bisa formal dan atau nonformal.
Dalam hubungan ini, pendidikan nonformal berbasis masyarakat adalah pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan dan berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian fungsional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan masyarakat, majelis taklirn serta satuan pendidikan yang sejenis.
Dengan demikian, nampak bahwa pendidikan nonformal pada dasarnya lebih cenderung mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang merupakan sebuah proses dan program, yang secara esensial, berkembangnya pendidikan nonformal berbasis masyarakat akan sejalan dengan munculnya kesadaran tentang bagaimana hubungan-hubungan sosial bisa membantu pengembangan interaksi sosial yang membangkitkan concern terhadap pembelajaran berkaitan dengan masalah yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sosial, politik,, lingkungan, ekonomi dan faktor-faktor lain. Sementara pendidikan berbasis masyarakat sebagai program harus berlandaskan pada keyakinan dasar bahwa partisipasi aktif dari warga masyarakat adalah hal yang pokok. Untuk memenuhinya, maka partisipasi warga harus didasari kebebasan tanpa tekanan dalam kemampuan berpartisipasi dan keingin berpartisipasi.
3. Pinsip-prinsip Pendidikan Berbasis Masyarakat
Menurut Michael W. Galbraith pendidikan berbasis masyarakat memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
• Self determination (menentukan sendiri). Semua anggota masyarakat memiliki hak dan tanggung jawab untuk terlibat dalam menentukan kebutuhan masyarakat dan mengidentifikasi sumber-sumber masyarakat yang bisa digunakan untuk merumuskan kebutuhan tersebut.
• Self help (menolong diri sendiri) Anggota masyarakat dilayani dengan baik ketika kemampuan mereka untuk menolong diri mereka sendiri telah didorong dan dikembangkaii. Mereka menjadi bagian dari solusi dan membangun kemandirian lebih baik bukan tergantung karena mereka beranggapan bahwa tanggung jawab adalah untuk kesejahteraan mereka sendiri.
• Leadership development (pengembangan kepemimpinan) Para pemimpin lokal harus dilatih dalam berbagai ketrampilan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan proses kelompok sebagai cara untuk menolong diri mereka sendiri secara terus-menerus dan sebagai upaya mengembangkan masyarakat.
• Localization (lokalisasi). Potensi terbesar unhik tingkat partisipasi masyarakat tinggi terjadi ketika masyarakat diberi kesempatan dalam pelayanan, program dan kesempatan terlibat dekat dengan kehidupan tempat masyarakat hidup.
• Integrated delivery of service (keterpaduan pemberian pelayanan) Adanya hubungan antaragensi di antara masyarakat dan agen-agen yang menjalankan pelayanan publik dalam memenuhi tujuan dan pelayanan publik yang lebih baik.
• Reduce duplication of service. Pelayanan Masyarakat seharusnya memanfaatkan secara penuh sumber-sumber fisik, keuangan dan sumber dava manusia dalam lokalitas mereka dan mengoordinir usaha mereka tanpa duplikasi pelayanan.
• Accept diversity (menerima perbedaan) Menghindari pemisahan masyarakat berdasarkan usia, pendapatan, kelas sosial, jenis kelamin, ras, etnis, agama atau keadaan yang menghalangi pengembangan masyarakat secara menyeluruh. Ini berarti pelibatan warga masyarakat perlu dilakukan seluas mungkin dan mereka dosorong/dituntut untuk aktif dalam pengembangan, perencanaan dan pelaksanaan program pelayanan dan aktifitas-aktifitas kemasyarakatan.
• Institutional responsiveness (tanggung jawab kelembagaan) Pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat yang berubah secara terus-menerus adalah sebuah kewajiban dari lembaga publik sejak mereka terbentuk untuk melayani masyarakat. Lembaga harus dapat dengan cepat merespon berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat agar manfaat lembaga akan terus dapat dirasakan.
• Lifelong learning (pembelajaran seumur hidup) Kesempatan pembelajaran formal dan informal harus tersedia bagi anggota masyarakat untuk semua umur dalam berbagai jenis latar belakang masyarakat.
Dalam perkembangannya, community-based education merupakan sebuah gerakan nasional di negara berkemang seperti Indonesia. community-based education diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society). Dengan sendirinya, manajemen penndidikan yang berdasarkan pada community-based education akan menampilkan wajah sebagai lembaga pendidikan dari masyarakat. Untuk melaksanakan paradigma pendidikan berbasis masyarakat pada jalur nonformal setidak-tidaknva mempersyaratkan lima hal (Sudjana. 1984). pertama, teknologi yang digunakan hendaknya sesuai dengan kondisi dan situasi nyata yang ada di masyarakat. Teknologi yang canggih yang diperkenalkan dan adakalanya dipaksakan sering berubah menjadi pengarbitan masyarakat yang akibatnva tidak digunakan sebab kehadiran teknologi ini bukan karena dibutuhkan, melainkan karena dipaksakan. Hal ini membuat masyarakat menjadi rapuh. Kedua, ada lembaga atau wadah yang statusnya jelas dimiliki atau dipinjam, dikelola, dan dikembangkan oleh masyarakat. Di sini dituntut adanya partisipasi masyarakat dalam peencanaan, pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan pendidikan luar sekolah. Ketiga, program belajar yang akan dilakukan harus bernilai sosial atau harus bermakna bagi kehidupan peserta didik atau warga belajar dalam berperan di masyarakat. Oleh karena itu, perancangannya harus didasarkan pada potensi lingkungan dan berorientasi pasar, bukan berorientasi akademik semata.
Keempat, program belajar harus menjadi milik masyarakat, bukan milik instansi pemerintah. Hal ini perlu ditekankan karena bercermin pada pengalaman selama ini bahwa lembaga pendidikan yang dimiliki oleh instansi pemerintah terbukti belum mampu membangkitkan partisipasi masyarakat. Yang terjadi hanyalah pemaksaan program, karena semua program pendidikan dirancang oleh instansi yang bersangkutan. Kelima, aparat pendidikan luar sekolah/nonformal tidak menangani sendiri programnya, namun bermitra dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan. Organisasi-organisasi kemasyarakatan ini yang menjadi pelaksana dan mitra masyarakat dalam memenuhi kebutuhan belajar mereka dan dalam berhubungan dengan sumber-sumber pendukung program.
4. Pendidikan Berbasis Masyarakat untuk pembangunan masyarakat
Dalam upaya mendorong pada terwujudnya pendidikan nonformal berbasis masyarakat, maka diperlukan upaya untuk menjadikan pendidikan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat. Dalam hal ini diperlukan pemahaman yang tepat akan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Pembangunan/pengembangan masyarakat, khususnya masyarakat desa merupakan suatu fondasi penting yang dapat memperkuat dan mendorong makin meningkatnya pembangunan bangsa, oleh karena itu pelibatan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan nonformal dapat menjadi suatu yang memberi makna besar bagi kelancaran pembangunan.
Pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat sebagai istilah-istilah yang dimaksud dalam pembahasan ini mengandung arti yang bersamaan. Pengembangan masyarakat, terutama di daerah pedesaan, bila dibandingkan dengan daerah perkotaan jelas menunjukan suatu ketimpangan, sehingga memerlukan upaya yang lebih keras untuk mencoba lebih seimbang diantara keduanya. pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat tersebut menunjukkan suatu upaya yang disengaja dan diorganisasi untuk memajukan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya yang dilakukan di dalam satu kesatuan Wilayah. Kesatuan wilayah itu bisa terdiri dari daerah pedesaan atau daerah perkotaan.
Upaya pembangunan ini bertujuan untuk terjadinya perubahan kualitas kehidupan manusia dan kualitas wilayahnya atau lingkungannya ke arah yang lebih baik. Agar pembangunan itu berhasil, maka pembangunan haruslah menjadi jawaban yang wajar terhadap kebutuhan perorangan, masyarakat dan Pemerintah baik di tingkat desa, daerah ataupun di tingkat nasional. Dengan demikian maka isi, kegiatan dan tujuan pengembangan masyarakat akan erat kaitannya dengan pembangunan nasional.
TR Batten menjelaskan bahwa pengembangan masyarakat ialah proses yang dilakukan oleh masyarakat dengan usaha untuk pertama-tama mendiskusikan dan menentukan kebutuhan atau keinginan mereka, kemudian merencanakan dan melaksanakan secara bersama usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka itu (Batten, 1961). Dalam proses tersebut maka keterlibatan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut. Tahap pertama, dengan atau tanpa bimbingan fihak lain, masyarakat melakukan identifikasi masalah, kebutuhan, keinginan dan potensi-potensi yang mereka miliki. Kemudian mereka mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan mereka, menginventarisasi kebutuhan-kebutuhan itu berdasarkan tingkat keperluan, kepentingan dan mendesak tidaknya usaha pemenuhan kebutuhan. Dalam identifikasi kebutuhan itu didiskusikan pula kebutuhan perorangan, kebutuhan masyarakat dan kebutuhan Pemerintah di daerah itu. Mereka menyusun urutan prioritas kebutuhan itu sesuai dengan sumber dan potensi yang terdapat di daerah mereka. Tahap kedua, mereka menjajagi kemungkinan-kemungkinan usaha atau kegiatan yang dapat mereka lakukan, untuk memenuhi kebutuhan itu. apakah sesuai dengan sumber-sumber yang ada dan dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan hambatan yang akan dihadapi dalam kegiatan itu. Selanjutnya mereka menentukan pilihan kegiatan atau usaha yang akan dilakukan bersama. Tahap ketiga, mereka menentukan rencana kegiatan, yaitu program yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa memiliki dikalangan masyarakat. Rasa pemilikan bersama itu menjadi prasarat timbulnya rasa tanggung jawab bersama untuk keberhasilan usaha itu. Tahap keempat ialah melaksanakan kegiatan. Dalam tahap keempat ini motivasi perlu dilakukan. Di samping itu komunikasi antara pelaksana terus dibina. Dalam tahap pelaksanaan ini akan terdapat masalah yang menuntut pemecahan. Pemecahan masalah itu dilakukan setelah dirundingkan bersama oleh masyarakat dan para pelaksana. Tahap kelima, penilaian terhadap proses pelaksanaan kegiatan, terhadap hasil kegiatan dan terhadap pengaruh kegiatan itu. Untuk kegiatan yang berkelanjutan, hasil evaluasi itu dijadikan salah satu masukan untuk tindak lanjut kegiatan atau untuk bahan penyusunan program kegiatan baru. Semua tahapan kegiatan itu dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif. Pengembangan masyarakat yang bertumpu pada kebutuhan dan tujuan pembangunan nasional itu memiliki dua jenis tujuan. Tujuan-tujuan itu dapat digolongkan kepada tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dengan sendirinya mengarah dan bermuara pada tujuan nasional, sedangkan tujuan khusus yaitu perubahan-perubahan yang dapat diukur yang terjadi pada masyarakat. Perubahan itu menyangkut segi kualitas kehidupan masyarakat itu sendiri setelah melalui program pengembangan masyarakat. Perubahan itu berhubungan dengan peningkatan taraf hidup warga masyarakat dan keterlibatannya dalam pembangunan. Dengan kata lain tujuan khusus itu menegaskan adanya perubahan yang dicapai setelah dilakukan kegiatan bersama, yaitu berupa perubahan tingkah laku warga masyarakat. Perubahan tingkah laku ini pada dasarnya merupakan hasil edukasi dalam makna yang wajar dan luas, yaitu adanya perubahan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan aspirasi warga masyarakat serta adanya penerapan tingkah laku itu untuk peningkatan kehidupan mereka dan untuk peningkatan partisipasi dalam pembangunan masyarakat. Partisipasi dalam pembangunan masyarakat itu bisa terdiri dari partisipasi buah fikiran, harta benda, dan tenaga (Anwas Iskandar, 1975). Dalam makna yang lebih luas maka tujuan pengembangan masyarakat pada dasarnya adalah pengembangan demokratisasi, dinamisasi dan modernisasi (Suryadi, 1971).
Prinsip-prinsip pengembangan masyarakat yang dikemukakan di sini ialah keterpaduan, berkelanjutan, keserasian, kemampuan sendiri (swadaya dan gotong royong), dan kaderisasi. Prinsip keterpaduan memberi tekanan bahwa kegiatan pengembangan masyarakat didasarkan pada program-program yang disusun oleh masyarakat dengan bimbingan dari lembaga-lembaga yang mempunyai hubungan tugas dalam pembangunan masyarakat. Prinsip berkelanjutan memberi arti bahwa kegiatan pembangunan masyarakat itu tidak dilakukan sekali tuntas tetapi kegiatannya terus menerus menuju ke arah yang lebih sempurna. Prinsip keserasian diterapkan pada program-program pembangunan masyarakat yang memperhatikan kepentingan masyarakat dan kepentingan Pemerintah. Prinsip kemampuan sendiri berarti dalam melaksanakan kegiatan dasar yang menjadi acuan adalah kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat sendiri.
Prinsip-prinsip di atas memperjelas makna bahwa program-program pendidikan nonformal berbasis masyarakat harus dapat mendorong dan menumbuhkan semangat pengembangan masyarakat, termasuk keterampilan apa yang harus dijadikan substansi pembelajaran dalam pendidikan nonformal. Oleh karena itu, upaya untuk menjadikan pendidikan nonformal sebagai bagian dari kegiatan masyarakat memerlukan upaya-upaya yang serius agar hasil dari pendidikan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas hidup mereka
Dalam hal ini perlu disadiri bahwa pengembangan masyarakat itu akan lancar apabila di masyarakat itu telah berkembang motivasi untuk membangun serta telah tumbuh kesadaran dan semangat mengembangkan diri ditambah kemampuan serta ketrampilan tertentu yang dapat menopangnya, dan melalui kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan nonformal diharapkan dapat tumbuh suatu semangat yang tinggi untuk membangun masyarakat desanya sendiri sabagai suatu kontribusi bagi pembangunan bangsa pada umumnya.
C. K E S I M P U L A N
Dari apa yang telah diuraikan terdahulu dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan Pendidikan Nonformal berbasis Masyarakat sebagai berikut :
• Pendidikan berbasis masyarakat merupakan upaya untuk lebih melibatkan masyarakat dalam upaya-upaya membangun pendidikan untuk kepentingan masyarakat dalam menjalankan perannya dalam kehidupan.
• Pendidikan nonformal berbasis masyarakat merupakan suatu upaya untuk menjadikan pendidikan nonformal lebih berperan dalam upaya membangun masyarakat dalam berbagai bidangnya, pelibatan masyarakat dalam pendidikan nonformal dapat makin meningkatkan peran pendidikan yang dapat secara langsung dirasakan oleh masyarakat.
• Untuk mencapai hal tersebut pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan pendidikan nonformal menjadi suatu keharusan, dalam hubungan ini diperlukan tentang pemehaman kondisi masyarakat khususnya di desa berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya, serta turut bertanggungjawab dalam upaya terus mengembangkan pendidikan yang berbasis masyarakat, khususnya masyarakat desa
D. DAFTAR PUSTAKA
Faisal, Sanapiah, (tt). Sosiologi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.
Nasution, S. (1983). Sosiologi Pendidikan,Jemmars, Bandung.
Soelaiman Joesoef dan Slamet Santosa, (1981). Pendidikan Sosial, Usaha Nasional,Surabaya
Sudjana SF, Djudju. (1983). Pendidikan Nonformal (Wawasan-Sejarah-Azas), Theme, Bandung.
Tilaar, H.A.R (1997) Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi, Grasindo, Jakarta, Cetakan Pertama.
Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Undang-undang no 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional